Saat Pengereman Mendadak, Saya Menyadari Jok Licin Itu Mengajarkan Banyak Hal

Siksaan sebenarnya bukan saat akselerasi. Siksaan terjadi saat pengereman.

Gerimis membuat aspal licin dengan cara yang licik. Kendaraan melambat. Dan abang, entah karena berjiwa pembalap atau karena dikejar target order, suka sekali mengerem mendadak.

Setiap kali rem ditarik, tubuh saya meluncur ke depan karena jok nungging dan licin. Saya meluncur seperti atlet seluncur es yang kehilangan masa depan.

Dan setiap kali itu terjadi, terjadi pula tragedi kecil yang membuat saya ingin mengirim surat pengunduran diri kepada hidup: bagian tubuh yang sangat sensitif itu menghantam bagian motor yang keras. Ngilunya merayap dari bawah ke atas, lalu membuat saya mendadak percaya pada eksistensi doa.

Saya yakin abang juga merasakan ada “benda” menubruk punggungnya. Ada hening sejenak di antara kami—sejenis kesepakatan diam untuk tidak membicarakan kejadian yang sama-sama kami pahami, demi menjaga sisa martabat yang menempel.

Masalahnya, gerakan maju-mundur itu terjadi berulang kali sepanjang perjalanan. Lima belas kilometer ke kantor terasa seperti latihan fisik intensitas tinggi.

Tangan saya pegal karena mencengkeram kolong motor. Paha saya bergetar menahan tubuh agar tidak merosot. Otot perut saya bekerja lembur. Saya berangkat kerja, tapi yang saya dapat justru program gym gratis versi neraka.

Bonus Track: Punggung Saya Dijadikan Target Semprot Ban

Karena spakbor belakang dipangkas, ban motor bebas memutar air bercampur pasir dan “misteri jalanan Jakarta” ke udara.

Cipratan itu tidak hilang. Dia naik. Dia mendarat. Tepat. Di punggung saya.

Saya bisa merasakan air dingin berbau tanah dan entah apa merembes masuk ke jaket dan membasahi kemeja. Itu bukan air hujan yang suci. Itu air yang sudah lebih dulu bergaul dengan aspal, selokan, dan sejarah kota.

Saya sudah bisa membayangkan: sesampainya di kantor, punggung kemeja saya akan bermotif polkadot abstrak warna cokelat. Karya seni yang tidak saya minta, tidak saya bayar, tapi tetap saya terima.

Sampai Lobi Kantor, Saya Berjalan Seperti Orang Baru Keluar dari Audisi Sirkus

Begitu sampai, saya turun dengan kaki gemetar. Orang mungkin mengira saya tegang mau presentasi. Padahal saya lemas karena hampir satu jam menyeimbangkan diri di atas motor yang tidak menyediakan fasilitas dasar untuk penumpang.

Tangan saya hitam legam kena oli dan debu kolong motor. Saya menyerahkan helm yang aromanya seperti gabungan antara angin jalanan, keringat, dan kenangan.

Saya menatap motor itu sekali lagi.

Dari jauh, dia keren. Dari dekat, dia instrumen penyiksaan modern.

Dan di titik inilah saya merasa perlu menulis surat terbuka ini—bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan. Karena urusannya bukan lagi selera modifikasi. Ini soal: abang narik penumpang, berarti abang membawa tanggung jawab.

Abang, Saat Aplikasi Menyala, Motor Itu Berubah Status

Ini bagian paling penting.

Saya paham banyak driver ojol narik pakai motor apa adanya. Rezeki tidak nunggu motor sempurna. Saya juga tidak minta semua orang ganti motor jadi matic bongsor yang joknya selebar janji manis mantan.

Tapi ada satu perubahan status yang sering tidak disadari:

Ketika aplikasi ojol dinyalakan dan abang menerima order, motor abang bukan cuma kendaraan pribadi. Motor itu berubah fungsi menjadi angkutan umum berbayar.

Angkutan umum—sekecil apa pun—punya syarat mutlak: penumpang harus bisa aman dan relatif nyaman.

Dan “aman” itu dimulai dari hal sederhana yang sering dianggap receh: pegangan.

Behel Itu Bukan Hiasan. Itu Jangkar Hidup (Dan Penyelamat Situasi Canggung)

Besi pegangan atau behel belakang punya fungsi vital:

  1. Keselamatan.
    Saat abang bermanuver, menghindari lubang, menyalip, atau mengerem, penumpang butuh jangkar. Pegangan itu menjadi pembeda antara “sampai” dan “terpental”.
  2. Kenyamanan sosial.
    Pegangan itu membuat penumpang tidak perlu mencari cara berpegangan yang serba salah. Dengan behel, penumpang punya ruang aman untuk menjaga jarak dan menjaga keseimbangan tanpa harus menempel terlalu dekat.

Mencopot behel saat narik penumpang itu kurang lebih setara dengan sopir bus yang melepas semua pegangan tangan di dalam bus karena ingin interiornya terlihat “clean”. Penumpang berdiri disuruh bertahan pakai iman.

Kalau tujuannya cuma gaya, silakan. Tapi jangan dipraktikkan saat membawa orang lain yang membayar jasa.

Permintaan Saya Sederhana, Abang

Saya tidak minta abang mengganti motor.

Saya tidak minta abang berhenti modifikasi.

Saya cuma minta: balikkan fitur dasar yang membuat motor layak mengangkut manusia lain.

  • Pasang kembali behel belakang.
    Kalau behel original sudah dijual demi knalpot brong (saya paham prioritas setiap orang beda-beda), belilah behel aftermarket atau bikin di tukang las. Yang penting fungsinya ada.
  • Kalau bisa, pasang spakbor yang masuk akal.
    Saya yakin abang juga tidak ingin penumpang turun lalu memaki dalam hati karena punggungnya jadi papan lukis lumpur.
  • Dan kalau jok belakangnya licin seperti wajan baru dicuci, setidaknya cari solusi: cover jok yang tidak membahayakan.

Ini bukan soal “motor jadi tidak gaul.” Ini soal penumpang tidak jadi korban estetika.

Kalau Tetap Ingin Clean Look Total, Ada Jalan yang Lebih Elegan

Kalau abang memang ingin motor tetap trondol 100% demi gaya, saya tidak melarang.

Tapi jangan narik penumpang umum.

Matikan aplikasi. Gunakan motor itu untuk kebutuhan pribadi, nongkrong, atau touring. Narik ojol dengan motor yang tidak ramah penumpang itu seperti membuka warung makan tapi menolak menyediakan piring: pelanggan akhirnya makan pakai tangan sendiri, lalu disalahkan karena belepotan.

Atau, kalau tetap ingin narik, ya narik orang yang memang sudah akrab dan nyaman dengan situasinya. Jangan bawa-bawa kami para pekerja yang sudah cukup berat menahan hidup dan cicilan—lalu ditambah harus menahan tubuh di atas jok nungging tanpa pegangan.

Kami cuma mau sampai kantor dengan:

  • badan utuh,
  • punggung tidak jadi mural,
  • dan tanpa perlu memikirkan nasib tulang ekor sepanjang hari.

Sekian surat terbuka ini. Saya pamit, karena saya masih harus ke toilet kantor untuk menggosok tangan dengan sabun sampai oli kolong motor hilang, dan memastikan tubuh saya masih berada di posisi anatomis yang semestinya.

Salam satu aspal. Tapi tolong, kasih kami pegangan.