Literasi Hukum - Rabu di Jakarta itu semacam level “nanggung” yang sengaja dipasang Tuhan untuk mengetes kesabaran umat manusia. Bukan Senin yang masih bisa kita bohongi dengan semangat palsu, bukan Jumat yang bisa kita pacari dengan harapan akhir pekan. Rabu itu hari ketika energi tinggal separuh, dompet mulai menipis karena jajan “self reward” yang kebablasan, dan deadline menumpuk setinggi rasa bersalah pada diri sendiri.
Dan seperti biasa, semesta merasa hidup kita masih terlalu mudah.
Pagi itu turun hujan tipe paling menyebalkan: gerimis rintik-rintik yang awet. Bukan hujan deras yang memaksa kita berteduh dan pasrah. Ini hujan yang datang halus, sopan, tapi jahatnya pelan-pelan. Dia tidak menggebuk, dia merembes. Sepuluh menit berdiri di pinggir jalan nunggu jemputan, kita baru sadar: “Oh, ternyata ini bukan gerimis. Ini metode penyiksaan.”
Dalam kondisi basah nanggung—kemeja lengket, jaket dingin, hidup makin susah—aplikasi ojol jadi semacam doa yang bisa dipesan lewat ponsel. Jempol saya menari. Saya berharap dapat driver dengan motor matic yang joknya lebar, empuk, dan kalau bisa punya aura “sofa berjalan”.
Tentu saja harapan itu adalah kesombongan.
Dari kejauhan muncul suara knalpot yang bukan sekadar suara: itu pengumuman perang. Motor sport mendekat, raungannya memecah konsentrasi orang sekecamatan. Begitu berhenti tepat di depan saya, saya melakukan pemindaian cepat dari depan sampai belakang, lalu semangat hidup saya runtuh dengan elegan.
Motor itu gagah, iya. Sangar, iya. Tapi untuk penumpang, motor itu adalah wahana uji nyali.
Jok belakangnya menungging seperti perosotan TK yang salah perhitungan. Spakbornya dipotong habis demi gaya “buntut tawon”, artinya cipratan air dan pasir jalanan akan punya akses VIP ke punggung saya. Dan dosa yang paling saya rasakan secara personal: behel belakangnya hilang.
Besi pegangan itu lenyap. Polos. Licin. Runcing. Seolah motor itu bilang, “Silakan naik, Mas. Kita lihat imanmu.”
Abang driver menyapa dari balik helm, mengonfirmasi pesanan. Saya menelan ludah. Dalam kepala saya ada dorongan besar untuk membatalkan—bukan karena saya tidak menghargai kerja keras abang—tapi karena saya juga menghargai tulang ekor saya sendiri.
Namun jam kantor tidak pernah peduli pada trauma penumpang. Keterlambatan hari ini bisa berujung pada tatapan HR yang dinginnya melebihi AC lobi. Jadi saya naik. Pelan. Pasrah. Dengan kesadaran penuh bahwa perjalanan ini akan menguji fisik, mental, dan kehormatan sosial.
Tiga Dosa Modifikasi yang Aman untuk Gaya, Tapi Tidak Aman untuk Penumpang
Saya paham, motor bagi banyak orang itu identitas. Kanvas. Media ekspresi. Ada aliran “clean look” yang menganggap perintilan adalah dosa estetika. Spion diperkecil, spakbor dibuang, behel dicopot supaya ekor motor tampak runcing dan “balap”.
Saya tidak memperdebatkan itu.
Yang saya pertanyakan cuma satu: kenapa gaya itu dibawa saat abang mengangkut penumpang berbayar?
Karena dalam pengalaman saya, ada tiga dosa modifikasi yang kalau dipakai narik ojol—apalagi pas hujan—itu bukan lagi soal selera, tapi soal keselamatan:
- Behel dicopot.
Ini bukan aksesori. Ini alat bertahan hidup penumpang. - Spakbor dipangkas.
Ini bukan “bikin rapi”. Ini membuat punggung penumpang jadi kanvas lumpur jalanan. - Jok belakang sempit dan licin.
Dalam kondisi basah, jok itu berubah fungsi menjadi wahana seluncur.
Masalahnya, saya sudah telanjur duduk di atas kombinasi tiga dosa itu.
Detik-detik Saya Hampir Menjadi Komentar Netizen di Video CCTV
Belum sempat saya menemukan posisi duduk yang manusiawi, abang sudah membetot gas.
Tubuh saya otomatis terhempas ke belakang, karena hukum fisika itu memang tidak bisa dinego. Refleks bertahan hidup saya menyala. Tangan saya meraba udara mencari pegangan.
Kiri kosong. Kanan kosong. Belakang hanya ekor motor yang licin tanpa celah.
Di momen itu saya sadar: tanpa behel, penumpang cuma punya dua opsi:
- Pegang sesuatu yang tidak ada, atau
- Pegang sesuatu yang ada, tapi secara sosial bikin kita mendadak jadi bahan pikiran sendiri.
Saya ingin jujur: memeluk pengemudi—siapa pun orangnya—bukan perkara “tabu” atau apa pun. Ini soal canggung. Kita baru kenal lima menit, lalu tiba-tiba harus berpegangan erat seolah sedang syuting adegan dramatis di tengah Sudirman. Saya tidak siap. Abang mungkin juga tidak minta.
Karena itu saya memilih opsi ketiga yang lebih tragis: teknik mencengkeram buta.
Tangan saya meraba ke bawah jok, masuk ke kolong motor yang kotor, mencari rangka besi, baut, apa pun yang bisa jadi sandaran hidup. Saya menemukan besi bulat yang penuh lumpur, oli, dan debu jalanan yang sudah jadi bubur karena gerimis.
Saya mencengkeram besi itu sekuat tenaga.
Posisi badan saya jadi absurd: condong ke depan, tangan menekuk ke belakang bawah, persis orang yang sedang melakukan yoga level “nyesel lahir”. Tapi ya sudahlah. Di atas motor trondol, estetika tidak penting. Yang penting saya tidak jadi berita.
Saat Pengereman Mendadak, Saya Menyadari Jok Licin Itu Mengajarkan Banyak Hal
Siksaan sebenarnya bukan saat akselerasi. Siksaan terjadi saat pengereman.
Gerimis membuat aspal licin dengan cara yang licik. Kendaraan melambat. Dan abang, entah karena berjiwa pembalap atau karena dikejar target order, suka sekali mengerem mendadak.
Setiap kali rem ditarik, tubuh saya meluncur ke depan karena jok nungging dan licin. Saya meluncur seperti atlet seluncur es yang kehilangan masa depan.
Dan setiap kali itu terjadi, terjadi pula tragedi kecil yang membuat saya ingin mengirim surat pengunduran diri kepada hidup: bagian tubuh yang sangat sensitif itu menghantam bagian motor yang keras. Ngilunya merayap dari bawah ke atas, lalu membuat saya mendadak percaya pada eksistensi doa.
Saya yakin abang juga merasakan ada “benda” menubruk punggungnya. Ada hening sejenak di antara kami—sejenis kesepakatan diam untuk tidak membicarakan kejadian yang sama-sama kami pahami, demi menjaga sisa martabat yang menempel.
Masalahnya, gerakan maju-mundur itu terjadi berulang kali sepanjang perjalanan. Lima belas kilometer ke kantor terasa seperti latihan fisik intensitas tinggi.
Tangan saya pegal karena mencengkeram kolong motor. Paha saya bergetar menahan tubuh agar tidak merosot. Otot perut saya bekerja lembur. Saya berangkat kerja, tapi yang saya dapat justru program gym gratis versi neraka.
Bonus Track: Punggung Saya Dijadikan Target Semprot Ban
Karena spakbor belakang dipangkas, ban motor bebas memutar air bercampur pasir dan “misteri jalanan Jakarta” ke udara.
Cipratan itu tidak hilang. Dia naik. Dia mendarat. Tepat. Di punggung saya.
Saya bisa merasakan air dingin berbau tanah dan entah apa merembes masuk ke jaket dan membasahi kemeja. Itu bukan air hujan yang suci. Itu air yang sudah lebih dulu bergaul dengan aspal, selokan, dan sejarah kota.
Saya sudah bisa membayangkan: sesampainya di kantor, punggung kemeja saya akan bermotif polkadot abstrak warna cokelat. Karya seni yang tidak saya minta, tidak saya bayar, tapi tetap saya terima.
Sampai Lobi Kantor, Saya Berjalan Seperti Orang Baru Keluar dari Audisi Sirkus
Begitu sampai, saya turun dengan kaki gemetar. Orang mungkin mengira saya tegang mau presentasi. Padahal saya lemas karena hampir satu jam menyeimbangkan diri di atas motor yang tidak menyediakan fasilitas dasar untuk penumpang.
Tangan saya hitam legam kena oli dan debu kolong motor. Saya menyerahkan helm yang aromanya seperti gabungan antara angin jalanan, keringat, dan kenangan.
Saya menatap motor itu sekali lagi.
Dari jauh, dia keren. Dari dekat, dia instrumen penyiksaan modern.
Dan di titik inilah saya merasa perlu menulis surat terbuka ini—bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan. Karena urusannya bukan lagi selera modifikasi. Ini soal: abang narik penumpang, berarti abang membawa tanggung jawab.
Abang, Saat Aplikasi Menyala, Motor Itu Berubah Status
Ini bagian paling penting.
Saya paham banyak driver ojol narik pakai motor apa adanya. Rezeki tidak nunggu motor sempurna. Saya juga tidak minta semua orang ganti motor jadi matic bongsor yang joknya selebar janji manis mantan.
Tapi ada satu perubahan status yang sering tidak disadari:
Ketika aplikasi ojol dinyalakan dan abang menerima order, motor abang bukan cuma kendaraan pribadi. Motor itu berubah fungsi menjadi angkutan umum berbayar.
Angkutan umum—sekecil apa pun—punya syarat mutlak: penumpang harus bisa aman dan relatif nyaman.
Dan “aman” itu dimulai dari hal sederhana yang sering dianggap receh: pegangan.
Behel Itu Bukan Hiasan. Itu Jangkar Hidup (Dan Penyelamat Situasi Canggung)
Besi pegangan atau behel belakang punya fungsi vital:
- Keselamatan.
Saat abang bermanuver, menghindari lubang, menyalip, atau mengerem, penumpang butuh jangkar. Pegangan itu menjadi pembeda antara “sampai” dan “terpental”. - Kenyamanan sosial.
Pegangan itu membuat penumpang tidak perlu mencari cara berpegangan yang serba salah. Dengan behel, penumpang punya ruang aman untuk menjaga jarak dan menjaga keseimbangan tanpa harus menempel terlalu dekat.
Mencopot behel saat narik penumpang itu kurang lebih setara dengan sopir bus yang melepas semua pegangan tangan di dalam bus karena ingin interiornya terlihat “clean”. Penumpang berdiri disuruh bertahan pakai iman.
Kalau tujuannya cuma gaya, silakan. Tapi jangan dipraktikkan saat membawa orang lain yang membayar jasa.
Permintaan Saya Sederhana, Abang
Saya tidak minta abang mengganti motor.
Saya tidak minta abang berhenti modifikasi.
Saya cuma minta: balikkan fitur dasar yang membuat motor layak mengangkut manusia lain.
- Pasang kembali behel belakang.
Kalau behel original sudah dijual demi knalpot brong (saya paham prioritas setiap orang beda-beda), belilah behel aftermarket atau bikin di tukang las. Yang penting fungsinya ada. - Kalau bisa, pasang spakbor yang masuk akal.
Saya yakin abang juga tidak ingin penumpang turun lalu memaki dalam hati karena punggungnya jadi papan lukis lumpur. - Dan kalau jok belakangnya licin seperti wajan baru dicuci, setidaknya cari solusi: cover jok yang tidak membahayakan.
Ini bukan soal “motor jadi tidak gaul.” Ini soal penumpang tidak jadi korban estetika.
Kalau Tetap Ingin Clean Look Total, Ada Jalan yang Lebih Elegan
Kalau abang memang ingin motor tetap trondol 100% demi gaya, saya tidak melarang.
Tapi jangan narik penumpang umum.
Matikan aplikasi. Gunakan motor itu untuk kebutuhan pribadi, nongkrong, atau touring. Narik ojol dengan motor yang tidak ramah penumpang itu seperti membuka warung makan tapi menolak menyediakan piring: pelanggan akhirnya makan pakai tangan sendiri, lalu disalahkan karena belepotan.
Atau, kalau tetap ingin narik, ya narik orang yang memang sudah akrab dan nyaman dengan situasinya. Jangan bawa-bawa kami para pekerja yang sudah cukup berat menahan hidup dan cicilan—lalu ditambah harus menahan tubuh di atas jok nungging tanpa pegangan.
Kami cuma mau sampai kantor dengan:
- badan utuh,
- punggung tidak jadi mural,
- dan tanpa perlu memikirkan nasib tulang ekor sepanjang hari.
Sekian surat terbuka ini. Saya pamit, karena saya masih harus ke toilet kantor untuk menggosok tangan dengan sabun sampai oli kolong motor hilang, dan memastikan tubuh saya masih berada di posisi anatomis yang semestinya.
Salam satu aspal. Tapi tolong, kasih kami pegangan.
Komentar
0Bagikan perspektif Anda secara sopan, relevan, dan fokus pada isi artikel. Komentar tampil setelah moderasi.
Ikut berdiskusi
Tulis tanggapan yang jelas, sopan, dan tetap pada topik pembahasan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Komentar akan muncul setelah dimoderasi.