Literasi Hukum - Ada satu kejadian kecil yang belakangan ini sering dialami banyak orang. Lagi scroll media sosial, tiba-tiba nemu video anak kecil yang berbicara dengan kalimat di luar dugaan usianya. Ada pula hewan-hewan lucu dengan ekspresi gemas yang terasa begitu pas. Refleks, kita ketawa. Rasanya ringan dan menghibur.

Lalu, seperti biasa, kita buka kolom komentar.

Dan di sanalah semuanya berubah.

“Ini AI, ya.”

“Kayaknya hasil generate.”

“Fix AI.”

Lucunya masih ada, tapi perasaannya langsung berubah. Ada rasa sebal, ada kecewa, ada juga sedih yang susah dijelasin. Banyak orang bilang, “kok jadi kesel ya pas tahu kalau itu AI?” Padahal, secara teknis, tidak ada yang salah.

Dan ternyata, perasaan itu dialami banyak orang.

Di Antara Tawa dan Curiga: Media Sosial di Era AI

Di media sosial, orang-orang mulai jujur soal hal ini. Ada yang bilang AI “merusak kebahagiaan kecil”. Ada yang mengaku sekarang malas melihat video lucu karena ujung-ujungnya AI. Bahkan ada yang bilang, “kok sekarang tiap lihat konten gemas malah curiga duluan?”

Rasa itu kemudian berkembang jadi kegelisahan yang lebih besar. Bukan cuma soal satu video lucu, tapi soal kepercayaan pada apa pun yang kita lihat di layar. Ada yang bilang internet sekarang terasa “mati” karena terlalu banyak yang palsu sampai yang asli pun ikut diragukan.

Beberapa orang bahkan mengaku sampai unlike konten yang awalnya disukai begitu tahu ternyata buatan AI. Bukan karena kontennya buruk, tapi karena rasanya sudah keburu kecewa. Pelan-pelan, rasa takjub berganti jadi ragu; kekaguman berubah jadi skeptis.

Sementara yang lain memilih pasrah: kalau kelihatan bagus, ya dinikmati saja.

Di titik ini, media sosial bukan lagi sekadar tempat hiburan, tapi ruang yang bikin lelah. Kita tidak cuma dituntut untuk menikmati konten, tapi juga terus menebak: ini nyata atau bukan? Dan ketika keraguan itu muncul terlalu sering, yang hilang bukan cuma tawa ,  tapi juga rasa percaya.

Ini bukan soal benci teknologi. Ini soal emosi yang terlanjur tulus.

Kita ketawa karena mengira itu nyata. Kita gemas karena merasa itu spontan. Begitu tahu semuanya buatan, rasanya seperti, “oh… yaudah.” Bukan marah, tapi kosong.

Teknologi AI sekarang memang makin canggih. Suara bayi bisa dibuat natural. Ekspresi hewan bisa diatur gemasnya. Bahkan momen “lucu kebetulan” bisa dirancang dengan rapi. Masalahnya, semua itu sering datang tanpa peringatan.

Akhirnya, media sosial jadi tempat yang capek secara emosional. Bukan karena isinya jelek, tapi karena kita harus terus bertanya: ini asli atau AI? Mau ketawa pun rasanya setengah-setengah.

Ironisnya, justru karena itu, konten yang benar-benar apa adanya sekarang terasa mahal. Video yang goyang. Anak kecil yang ngomongnya belepotan. Hewan lucu yang tingkahnya nggak rapi. Hal-hal kecil yang mungkin nggak viral, tapi terasa hidup.

Mungkin rasa kecewa ini bukan tanda kita anti teknologi. Justru ini tanda bahwa manusia masih butuh keaslian ,  masih ingin tertawa tanpa harus mikir, “ini hasil mesin atau bukan?”

Dan mungkin, itulah yang sekarang lagi kita rindukan di media sosial: perasaan yang sederhana, jujur, dan nyata   tanpa perlu dibuktikan dulu di kolom komentar.