Detik-detik Saya Hampir Menjadi Komentar Netizen di Video CCTV
Belum sempat saya menemukan posisi duduk yang manusiawi, abang sudah membetot gas.
Tubuh saya otomatis terhempas ke belakang, karena hukum fisika itu memang tidak bisa dinego. Refleks bertahan hidup saya menyala. Tangan saya meraba udara mencari pegangan.
Kiri kosong. Kanan kosong. Belakang hanya ekor motor yang licin tanpa celah.
Di momen itu saya sadar: tanpa behel, penumpang cuma punya dua opsi:
- Pegang sesuatu yang tidak ada, atau
- Pegang sesuatu yang ada, tapi secara sosial bikin kita mendadak jadi bahan pikiran sendiri.
Saya ingin jujur: memeluk pengemudiâsiapa pun orangnyaâbukan perkara âtabuâ atau apa pun. Ini soal canggung. Kita baru kenal lima menit, lalu tiba-tiba harus berpegangan erat seolah sedang syuting adegan dramatis di tengah Sudirman. Saya tidak siap. Abang mungkin juga tidak minta.
Karena itu saya memilih opsi ketiga yang lebih tragis: teknik mencengkeram buta.
Tangan saya meraba ke bawah jok, masuk ke kolong motor yang kotor, mencari rangka besi, baut, apa pun yang bisa jadi sandaran hidup. Saya menemukan besi bulat yang penuh lumpur, oli, dan debu jalanan yang sudah jadi bubur karena gerimis.
Saya mencengkeram besi itu sekuat tenaga.
Posisi badan saya jadi absurd: condong ke depan, tangan menekuk ke belakang bawah, persis orang yang sedang melakukan yoga level ânyesel lahirâ. Tapi ya sudahlah. Di atas motor trondol, estetika tidak penting. Yang penting saya tidak jadi berita.
Saat Pengereman Mendadak, Saya Menyadari Jok Licin Itu Mengajarkan Banyak Hal
Siksaan sebenarnya bukan saat akselerasi. Siksaan terjadi saat pengereman.
Gerimis membuat aspal licin dengan cara yang licik. Kendaraan melambat. Dan abang, entah karena berjiwa pembalap atau karena dikejar target order, suka sekali mengerem mendadak.
Setiap kali rem ditarik, tubuh saya meluncur ke depan karena jok nungging dan licin. Saya meluncur seperti atlet seluncur es yang kehilangan masa depan.
Dan setiap kali itu terjadi, terjadi pula tragedi kecil yang membuat saya ingin mengirim surat pengunduran diri kepada hidup: bagian tubuh yang sangat sensitif itu menghantam bagian motor yang keras. Ngilunya merayap dari bawah ke atas, lalu membuat saya mendadak percaya pada eksistensi doa.
Saya yakin abang juga merasakan ada âbendaâ menubruk punggungnya. Ada hening sejenak di antara kamiâsejenis kesepakatan diam untuk tidak membicarakan kejadian yang sama-sama kami pahami, demi menjaga sisa martabat yang menempel.
Masalahnya, gerakan maju-mundur itu terjadi berulang kali sepanjang perjalanan. Lima belas kilometer ke kantor terasa seperti latihan fisik intensitas tinggi.
Tangan saya pegal karena mencengkeram kolong motor. Paha saya bergetar menahan tubuh agar tidak merosot. Otot perut saya bekerja lembur. Saya berangkat kerja, tapi yang saya dapat justru program gym gratis versi neraka.
Bonus Track: Punggung Saya Dijadikan Target Semprot Ban
Karena spakbor belakang dipangkas, ban motor bebas memutar air bercampur pasir dan âmisteri jalanan Jakartaâ ke udara.
Cipratan itu tidak hilang. Dia naik. Dia mendarat. Tepat. Di punggung saya.
Saya bisa merasakan air dingin berbau tanah dan entah apa merembes masuk ke jaket dan membasahi kemeja. Itu bukan air hujan yang suci. Itu air yang sudah lebih dulu bergaul dengan aspal, selokan, dan sejarah kota.
Saya sudah bisa membayangkan: sesampainya di kantor, punggung kemeja saya akan bermotif polkadot abstrak warna cokelat. Karya seni yang tidak saya minta, tidak saya bayar, tapi tetap saya terima.
Komentar (0)
Tulis komentar