Literasi Hukum - Gunung Anyar itu nama yang terdengar seperti tempat buat pendakian, padahal kalau Anda mencari gunung di sana, yang Anda temukan biasanya cuma: perumahan baru, jalanan yang makin ramai, dan angin yang kadang membawa aroma tambak—kalau Anda cukup dekat ke sisi yang masih sempat menyisakan jejak pesisir Surabaya. Namanya “anyar”, serba baru, serba tumbuh, serba “wah kok sekarang di sini ada ini ya”. Tapi justru karena serba baru itulah, ada satu hal yang bikin Gunung Anyar terasa tetap punya jiwa: gerobak makan malam yang bunyinya lebih jujur daripada slogan properti.

Bunyinya: “tek-tek.”

Bukan bunyi notifikasi chat kantor. Bukan bunyi kalender rapat. Bukan bunyi email masuk yang biasanya bikin dada otomatis ngenceng. “Tek-tek” ini bunyi yang lebih manusiawi. Bunyi yang tidak menuntut Anda jadi produktif. Bunyi yang hanya bilang satu hal sederhana: “rek, mangan sik.”

Dan entah kenapa, di Gunung Anyar, bunyi itu seringnya berarti satu menu yang sudah seperti identitas kultural arek Surabaya: tahu tek.

Saya suka membayangkan tahu tek itu bukan sekadar makanan, tapi semacam kejadian. Kalau nasi goreng adalah keputusan cepat ketika lapar, tahu tek lebih mirip proses negosiasi batin. Ada ritualnya. Ada penantiannya. Ada dialog kecil yang kalau ditulis bisa jadi drama keluarga: “Makan tahu tek, tapi besok diet.” Lalu besoknya tahu tek lagi, karena hidup kadang memang tidak butuh konsistensi, butuh rasa aman.

Dan tahu tek di Gunung Anyar punya konteks sosial yang menarik: ia hidup di ruang yang lagi berubah. Di satu sisi ada kafe-kafe dan tempat makan yang cahayanya hangat, menu-menunya pakai bahasa Inggris, dan harga minumnya kadang bikin kita menatap struk sambil bertanya, “Ini kopi atau cicilan?” Di sisi lain, ada gerobak sederhana yang kalau dilihat dari dekat, catnya sudah pudar, roda kecilnya seperti menyimpan banyak cerita jalan berlubang, tapi aromanya—aromanya itu tidak pernah gagal membangunkan sesuatu di kepala.

Aroma bawang goreng yang ketemu minyak panas. Aroma kacang yang ditumbuk. Dan terutama: aroma petis yang bagi sebagian orang itu “wangi Surabaya”, bagi sebagian yang lain itu “kok amis ya”, dan bagi saya pribadi itu semacam tes kejujuran: Anda bisa berpura-pura suka banyak hal, tapi di depan petis, orang biasanya langsung ketahuan.

Tahu tek itu makanan yang tidak terlalu peduli dengan pencitraan. Dia tidak butuh plating. Dia tidak butuh piring keramik artisanal. Dia datang dengan porsi yang apa adanya dan kuah saus yang warnanya tidak masuk kategori “instagrammable”, tapi masuk kategori “kalau kena baju, selamat datang noda abadi”.

Saya selalu percaya, makanan yang enak itu biasanya punya satu ciri: tidak takut membuat Anda sedikit berantakan.