Saya pernah melihat adegan yang menurut saya sangat khas Surabaya: seorang pengemudi ojol datang, memesan tahu tek bungkus, sambil tangan satunya masih memegang HP, matanya memantau aplikasi. Di belakangnya, ada anak muda yang mengeluh lapar sambil bercanda, “Cak, cepet yo, aku wes koyo wong ilang arah iki.” Si Cak hanya tertawa kecil, tangannya tetap bekerja. Tidak ada drama. Tidak ada “service excellence” yang dibuat-buat. Yang ada hanya realitas: semua lapar, semua ingin cepat, tapi makanan enak punya tempo sendiri.
Dan tempo itu, anehnya, membuat kita belajar sabar. Minimal sabar lima sampai sepuluh menit—yang bagi generasi yang terbiasa dengan instant delivery itu sudah seperti latihan spiritual.
Kalau Anda makan di tempat, pengalaman tahu tek tidak hanya soal rasa. Ada aspek visual dan sosial yang tidak bisa dikirim lewat aplikasi. Anda melihat tangan si penjual yang sudah hafal pola. Anda melihat bagaimana ia menakar tanpa timbangan. Anda mendengar cara ia berinteraksi dengan pelanggan: singkat, lugas, kadang nyelekit, tapi tidak pernah terasa jahat. Anda melihat orang-orang di sekitar Anda yang sama-sama lapar, sama-sama menunggu, sama-sama ingin pulang dengan perut terisi dan kepala sedikit lebih ringan.
Di Gunung Anyar yang makin modern, tahu tek itu seperti penanda bahwa kota tidak sepenuhnya berubah menjadi etalase. Ia mengingatkan bahwa Surabaya, dengan segala pembangunan dan perumahannya, masih punya ruang untuk hal-hal yang tidak dipoles.
Tahu tek juga punya kejujuran yang sulit disaingi makanan “viral”. Ia tidak minta divalidasi lewat konten. Anda tidak perlu merekam slow motion saus kacang mengalir. Anda tidak perlu membuat caption “hidden gem” seolah-olah penjualnya adalah harta karun yang baru ditemukan padahal beliau sudah jualan sejak sebelum Anda punya KTP.
Tahu tek tidak butuh Anda. Anda yang butuh tahu tek.
Karena tahu tek itu comfort food versi Surabaya: tidak manja, tidak romantis, tapi setia. Ia tidak mengatakan “aku akan menyembuhkan luka batinmu”, tapi ia melakukan sesuatu yang lebih realistis: membuat Anda lupa sebentar bahwa luka batin itu ada, karena mulut Anda sibuk mengunyah dan kepala Anda sibuk berkata, “Wah, petis e manteb.”
Ada satu hal yang juga menarik: tahu tek sering jadi makanan yang memaksa Anda berdamai dengan identitas lokal. Misalnya, soal petis. Petis itu bahan yang punya reputasi unik: dicintai fanatik dan dibenci dengan sangat personal. Orang yang suka petis bisa ngomong panjang tentang “aromanya khas”, “rasa umaminya keluar”, “ini yang bikin beda”. Orang yang tidak suka petis juga bisa ngomong panjang, tapi isinya biasanya tentang trauma.
Di Gunung Anyar, saya melihat petis menjadi semacam jembatan antargenerasi. Orang tua yang sudah terbiasa akan bilang, “Kurang petise iki, Cak.” Anak muda yang baru mencoba akan mulai dengan kalimat defensif, “Aku tak coba dikit dulu.” Lima menit kemudian, anak muda itu biasanya diam, lalu memesan lagi lain waktu dengan gaya sok biasa: “Cak, biasa yo.”
Tahu tek punya kemampuan mengubah orang tanpa ceramah.
Dan jangan lupakan elemen tekstur, yang kalau dibedah bisa jadi bahan diskusi serius padahal ini cuma makanan: lembutnya lontong, empuknya tahu, renyahnya kerupuk, segarnya taoge, dan saus yang mengikat semuanya seperti perekat sosial. Semua bertemu dalam satu piring, saling menyeimbangkan, dan membuat Anda sadar bahwa hidup yang enak itu sering bukan hidup yang sempurna, tapi hidup yang komposisinya pas.
Gunung Anyar sendiri adalah latar yang cocok untuk itu. Ia bukan pusat kota dengan nostalgia kolonial atau gedung-gedung tua yang fotogenik. Ia lebih seperti ruang transisi: wilayah yang tumbuh, berubah, dan terus menyesuaikan. Dalam ruang seperti itu, tahu tek hadir sebagai sesuatu yang tetap. Ia seperti pengingat kecil bahwa di tengah perubahan, kita butuh hal-hal yang familiar.
Ada momen ketika Anda pulang malam, jalanan Gunung Anyar tidak seramai siang, angin agak lembap, dan lampu-lampu rumah baru terlihat seperti bintang versi perumahan. Lalu Anda melihat gerobak tahu tek, dan Anda sadar: ternyata yang kita cari setelah seharian “jadi orang dewasa” bukanlah motivasi, bukanlah quote Instagram, bukanlah “me time” yang harus estetik. Yang kita cari kadang cuma: duduk sebentar, makan sesuatu yang hangat, dan mendengar bunyi “tek-tek” yang seperti berkata, “Wes, ojo dipikir abot-berat.”
Dan di situlah tahu tek di Gunung Anyar menang, bukan sebagai makanan mewah, tapi sebagai pengalaman kecil yang membuat hidup terasa lebih masuk akal.
Bahkan kalau Anda membawanya pulang, makan di rumah, pengalaman itu masih ada. Bungkus kertas atau styrofoam itu akan dibuka dengan rasa antusias yang sederhana. Bau petis akan menyebar seperti pengumuman bahwa hari ini selesai. Kerupuk akan tetap renyah kalau Anda cepat. Kalau tidak cepat, kerupuknya melempem dan Anda akan belajar satu lagi filosofi tahu tek: beberapa hal memang harus dinikmati pada waktunya.
Tahu tek itu juga mengajarkan bahwa kebahagiaan kadang bukan tujuan besar. Ia bisa berupa keputusan kecil: berhenti sebentar di pinggir jalan, memesan porsi biasa, mungkin tambah telur kalau sedang ingin memanjakan diri, lalu makan tanpa memikirkan apakah ini “sehat” atau tidak. Karena hidup sehat itu ideal, tetapi hidup bahagia itu kebutuhan mendesak, terutama ketika hari Anda baru saja digilas kerjaan.
Tentu, selalu ada drama kecil. Kadang Anda datang dan penjualnya sudah habis. Kadang Anda datang dan antreannya panjang. Kadang Anda datang dan hujan turun, membuat Anda harus menunggu sambil menahan udara dingin yang jarang-jarang muncul di Surabaya. Tapi drama-drama itu justru membuat tahu tek terasa seperti bagian dari kehidupan, bukan produk yang bisa Anda klik dan selesai.
Gunung Anyar mungkin tidak punya gunung, tapi punya sesuatu yang lebih berguna bagi manusia urban: tempat kecil untuk berhenti dan mengingat rasa. Dan tahu tek adalah salah satu penandanya.
Pada akhirnya, mungkin benar bahwa kota berubah. Jalan bertambah, ruko tumbuh, perumahan semakin rapat, dan segala hal bergerak ke arah yang lebih modern. Tapi selama masih ada orang yang mendorong gerobak, memukul alatnya hingga berbunyi “tek-tek”, meracik saus kacang-petis dengan tangan yang hafal, dan menyajikan sepiring tahu tek kepada siapa pun yang lapar—selama itu masih ada, Gunung Anyar akan tetap punya sesuatu yang tidak bisa digantikan aplikasi: rasa yang membuat kita merasa pulang, meskipun kita cuma berhenti sebentar.
Dan barangkali itu yang paling penting dari tahu tek di Gunung Anyar: ia bukan sekadar makanan. Ia adalah cara Surabaya berkata, dengan gaya yang tidak romantis tapi sangat tulus, “Wes, mangan sik. Mengko dipikir maneh.”
Komentar
0Bagikan perspektif Anda secara sopan, relevan, dan fokus pada isi artikel. Komentar tampil setelah moderasi.
Ikut berdiskusi
Tulis tanggapan yang jelas, sopan, dan tetap pada topik pembahasan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Komentar akan muncul setelah dimoderasi.