Di Gunung Anyar, tahu tek sering hadir sebagai penutup hari. Anda habis pulang kerja, kepala masih panas oleh target dan chat grup, atau habis kuliah, atau habis menjemput anak, atau habis ribut kecil dengan pasangan karena urusan sepele yang sebenarnya bukan urusan sepele. Lalu Anda melewati jalan, melihat gerobak, mendengar “tek-tek”, dan tiba-tiba hidup terasa punya pilihan lain selain memikirkan hal-hal yang tidak bisa Anda bereskan malam itu juga.

Anda berhenti. Duduk di kursi plastik yang kalau diduduki bunyinya seperti protes halus. Di depan Anda, si penjual—biasanya dipanggil “Cak”, bahkan kalau nama KTP-nya bukan itu—mulai bekerja dengan ritme yang kalau dipikir-pikir, mirip musisi. Pisau, cobek, ulekan, sendok, semua punya peran. Bunyi “tek-tek” itu kadang muncul dari alat pemotong, kadang dari benturan alat di wajan, kadang dari cara si penjual mengatur tempo. Bunyi itu repetitif tapi menenangkan, seperti metronom yang mengingatkan: pelan saja, semua ada prosesnya.

Di meja kerjanya, ada lontong yang dipotong, tahu goreng yang disiapkan, kentang yang sering jadi kejutan karena tahu tek itu diam-diam punya dua kubu: kubu yang suka kentang banyak dan kubu yang menganggap kentang itu pengalih perhatian. Ada taoge yang kadang diberi, kadang orang lupa menanyakannya, lalu menyesal ketika melihat porsi tetangga yang terlihat “lebih lengkap”. Ada kerupuk yang hampir selalu jadi penutup, seperti epilog yang membuat cerita terasa selesai.

Yang paling menentukan tentu sausnya. Kacang, petis, bawang putih, cabai—komposisi yang kalau salah takar bisa jadi tragedi. Terlalu manis, tahu tek berubah jadi camilan ulang tahun anak. Terlalu asin, dia jadi hukuman. Terlalu pedas, dia jadi tantangan maskulinitas yang tidak perlu. Tapi kalau pas, tahu tek berubah jadi sesuatu yang sulit dijelaskan selain dengan kalimat, “Nah, iki loh.”

Dan di situlah saya melihat keajaiban kecil tahu tek di Gunung Anyar: ia sering lebih konsisten daripada banyak hal di hidup kita.

Anda boleh pindah kontrakan, pindah kerja, pindah gebetan, pindah prinsip hidup dari “aku mau hidup sehat” ke “aku butuh kebahagiaan”, tapi ketika saus tahu tek itu pas, Anda akan merasakan kestabilan yang jarang ditemukan di rapat mingguan.

Tahu tek itu, dalam cara yang sangat Surabaya, mengajarkan bahwa rasa enak tidak harus rumit. Ia hanya butuh orang yang paham kapan harus menambah petis dan kapan harus berhenti. Ini pelajaran yang kalau diterapkan dalam hidup, mungkin bisa mengurangi banyak konflik: tahu kapan cukup, tahu kapan lanjut, tahu kapan nambah, tahu kapan “wes, segini ae.”

Di Gunung Anyar, tahu tek juga jadi tempat bertemunya manusia dari berbagai kelas sosial tanpa perlu sesi “team building”. Satu meja bisa diisi mahasiswa yang dompetnya tipis tapi semangatnya tebal, duduk bersebelahan dengan bapak-bapak yang habis dari minimarket beli rokok dan air mineral, atau ibu-ibu yang sebentar lagi pulang ke rumah cluster tapi malam ini ingin merasakan “jajan pinggir jalan” demi mengingat bahwa hidup tidak selalu harus rapi.