JAKARTA, Literasi Hukum — Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai durasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tidak semata ditentukan oleh kekuatan serangan di medan tempur. Menurut dia, cepat atau lamanya konflik sangat bergantung pada sedikitnya lima variabel utama, mulai dari stamina militer hingga peluang hadirnya mediator yang dapat membuka jalan keluar diplomatik. Pernyataan itu disampaikan saat konflik disebut telah memasuki minggu kedua.

Hikmahanto menjelaskan, prediksi soal perang yang akan berakhir cepat tidak bisa dilepaskan dari banyak faktor yang saling berkaitan. Di satu sisi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut memprediksi perang dapat selesai dalam waktu empat sampai lima minggu. Namun di sisi lain, Iran juga menyatakan siap bertahan selama dibutuhkan untuk mempertahankan kedaulatannya. Karena itu, menurut Hikmahanto, perkembangan konflik tidak bisa dibaca hanya dari pernyataan politik, melainkan harus dilihat dari daya tahan para pihak dan dinamika internasional yang mengitarinya.

Stamina Militer dan Dukungan Domestik Jadi Penentu Awal

Faktor pertama yang disorot Hikmahanto adalah stamina militer dari masing-masing pihak yang terlibat perang. Yang dimaksud bukan hanya kekuatan senjata semata, tetapi juga ketersediaan rudal, drone, pesawat tempur, jumlah personel, kemampuan logistik, hingga kapasitas anggaran negara untuk menopang operasi militer dalam jangka waktu lama. Semakin besar cadangan sumber daya yang dimiliki, semakin besar pula kemungkinan suatu negara mempertahankan tempo perangnya.

Faktor kedua adalah dukungan politik dan rakyat di dalam negeri. Hikmahanto menilai keputusan untuk melanjutkan atau mengakhiri perang pada akhirnya sangat ditentukan oleh legitimasi politik domestik. Pemerintah yang kehilangan dukungan elite politik atau masyarakat akan menghadapi tekanan lebih besar untuk menghentikan konflik, meskipun secara militer masih mampu bertahan. Dengan kata lain, perang modern bukan hanya soal siapa paling kuat di garis depan, tetapi juga siapa yang paling mampu menjaga dukungan publik di belakang layar.