Literasi Hukum - Berbeda dengan para pendahulunya, anak tunggal Presiden Prabowo Subianto, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo atau lebih dikenal sebagai Didit Prabowo, tidak terjun ke dunia politik. Kiprahnya justru dikenal sebagai seorang desainer busana kelas dunia yang berbasis di Paris dan memiliki label fesyen sendiri. Ia dikenal luas melalui karya-karya haute couture yang kerap mengintegrasikan unsur budaya Indonesia.
Dinasti politik
Anak-anak mantan Presiden Jokowi seluruhnya berkiprah di dunia politik, sebuah ranah yang relatif paling cepat mengantarkan pada kekuasaan. Setelah Jokowi hijrah dari kursi Wali Kota Solo ke kursi Gubernur DKI Jakarta, Gibran Rakabuming Raka—anak keduanya—berhasil menduduki kursi Wali Kota Solo. Proses pencalonannya kala itu menimbulkan polemik, termasuk di internal partai pengusungnya, PDI Perjuangan.
Langkah politik Gibran kemudian melaju tanpa hambatan berarti. Belum genap satu periode menjabat sebagai Wali Kota Solo, ia meloncat ke kontestasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI, berpasangan dengan Prabowo Subianto, dan keluar sebagai pemenang. Kemenangan tersebut tidak terlepas dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang kerap disebut sebagai putusan “sakti”, diputus oleh majelis yang diketuai Anwar Usman, yang notabene memiliki hubungan keluarga. Padahal, dalam praktik peradilan, hakim semestinya mengundurkan diri apabila memiliki konflik kepentingan atau hubungan keluarga dengan pihak yang berkepentingan dalam perkara.
Sementara itu, Kahiyang Ayu memang tidak terjun langsung ke dunia politik. Namun, suaminya, Bobby Nasution, secara relatif tiba-tiba mengikuti kontestasi Pemilihan Wali Kota Medan, Sumatera Utara, dan berhasil menang, meskipun bukan politikus yang berakar di daerah tersebut. Kini Bobby bahkan menduduki posisi orang nomor satu di Provinsi Sumatera Utara sebagai Gubernur.
Adapun putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, memilih jalur politik dengan langsung mengambil alih kendaraan politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai Ketua Umum. Publik menduga PSI akan dijadikan sebagai kendaraan politik keluarga Jokowi dalam kontestasi pemilu mendatang.
Melalui Gibran, Kaesang, serta menantunya Bobby Nasution, Jokowi tampak sedang membangun sebuah dinasti politik atau keluarga politik. Dinasti politik merujuk pada pola kekuasaan yang dijalankan secara turun-temurun dalam lingkaran keluarga yang terikat hubungan darah atau pernikahan, dengan tujuan memperoleh atau mempertahankan kekuasaan. Secara harfiah, dinasti politik berarti pengisian jabatan publik yang berlangsung lintas generasi dalam satu keluarga. Kondisi ini dikhawatirkan membuka ruang kecurangan akibat campur tangan kekuasaan, terutama ketika anggota keluarga terlibat dalam politik elektoral.
Jejak langkah anak-anak presiden
Fenomena dinasti politik di Indonesia kerap dirujukkan sejak era Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Putrinya, Megawati Soekarnoputri, menapaki karier politik yang gemilang sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan dan mencapai puncaknya dengan menduduki kursi Presiden RI pada periode 2001–2004. Jejak politik Megawati kemudian diikuti oleh Puan Maharani dan Prananda Prabowo. Saat ini, Puan Maharani menjabat sebagai Ketua DPR RI, sementara Prananda Prabowo aktif sebagai pengurus Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan.
Presiden RI kedua, Soeharto, juga menunjukkan pola serupa. Pada masa kepemimpinannya, ia mengangkat Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut sebagai Menteri Sosial. Selain itu, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) mendirikan Partai Berkarya dan menjadi Ketua Umum, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) aktif di Partai Golkar dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR, serta Bambang Trihatmodjo yang juga pernah menjadi pengurus DPP Golkar.
Di era reformasi, Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengawali karier politiknya sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Melalui Partai Demokrat, SBY kemudian terpilih sebagai Presiden RI. Putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meneruskan kepemimpinan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat hingga saat ini. Sebelumnya, AHY merupakan perwira menengah TNI AD yang memilih menanggalkan seragam militernya untuk terjun secara total ke dunia politik. Di akhir masa pemerintahan Presiden Jokowi, AHY diangkat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN. Dalam Kabinet Merah Putih pemerintahan Prabowo Subianto, AHY kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Pemimpin dibuat, bukan dilahirkan
Sesungguhnya, bukanlah kesalahan Gibran, Mbak Tutut, Megawati, atau AHY terlahir dari rahim seorang istri presiden. Tidak seorang pun dapat memilih dari rahim siapa ia dilahirkan. Mengutip tulisan Mohamad Sobary di media sosial, terdapat pepatah lama yang berbunyi, “Bukan salah bunda mengandung.” Pepatah ini mengingatkan bahwa keberhasilan maupun kegagalan seseorang sejatinya adalah buah dari usahanya sendiri. Jika suratan hidupmu baik, itu adalah hasil kerja kerasmu. Jika sebaliknya, “buruk suratan tangan sendiri”.
Pepatah tersebut mengandung renungan mendalam, menjadi semacam “cermin benggala” bagi setiap orang untuk bercermin dan mengolah hidupnya sendiri. Sejalan dengan itu, terdapat ungkapan populer: leaders are made, not born—pemimpin dibuat, bukan dilahirkan.
Dengan kata lain, menjadi pemimpin adalah proses yang dapat ditempuh oleh siapa pun melalui pendidikan, pelatihan, keterampilan, pengalaman, profesionalisme, dan kerja keras. Kepemimpinan tidak serta-merta hadir hanya karena seseorang dilahirkan dari keluarga penguasa. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa terlahir dari keluarga pejabat kerap memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki oleh mereka yang berasal dari keluarga biasa.
Sumber kepustakaan
- Literasihukum.com
- Wikipedia
- Berbagai media sosial dan media daring
Tulis komentar