Aksi Kamisan : Gerakan Kolektif Untuk Merawat Ingatan

Aksi Kamisan yang awalnya hanya dihadiri oleh tiga orang mampu menyebarkan rasa solidaritas kepada keluarga korban lainnya, dan hingga kini telah diadakan di 50 kota di seluruh Indonesia. Aksi Kamisan tidak hanya diikuti oleh dari keluarga korban, melainkan juga diikuti oleh anak-anak muda, baik mahasiswa maupun pelajar. Meluasnya partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam Aksi Kamisan juga menandakan kepedulian serta kesadaran orang-orang akan pentingnya isu hak asasi manusia. Di samping itu, Aksi Kamisan telah menjadi semacam gerakan kolektif dalam merawat ingatan akan kesewenang-wenangan Negara terhadap warganya di masa lalu. Tak hanya itu, aksi solidaritas tersebut telah menjadi ruang pembelajaran dan pendidikan politik bagi masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Bivitri Susanti, seorang akademisi sekaligus pakar hukum, melalui tulisannya, “Aksi Kamisan lebih dari demonstrasi soal pelanggaran HAM. Ia telah menjadi pendidikan politik tentangcivic virtue, dengan langsung mempraktikkan kegiatan warga dalam membela kebebasan dan hak-haknya yang seharusnya dipenuhi serta dilindungi negara”. Aksi Kamisan yang telah berlangsung selama 17 tahun juga menepis tuduhan bahwa aksi tersebut hanya aksi 5 tahunan sekali atau muncul menjelang pemilu. Padahal, aksi tersebut bukanlah sebuah aksi untuk menjatuhkan tokoh atau kelompok tertentu, melainkan aksi damai yang hanya mengharapkan keadilan dan keseriusan dari negara untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. Dan, sayangnya, masih banyak sekali orang-orang yang menelan mentah-mentah narasi yang mereduksi perjuangan keluarga korban untuk mendapatkan akses keadilan. Narasi-narasi yang menyatakan bahwa aksi tersebut ditunggangi, mendapatkan amplop, dan sebagainya. Tuduhan-tuduhan yang sama sekali tak berdasar dan tak pernah terbukti. Bagaimanapun juga, Aksi Kamisan akan terus ada sepanjang keadilan tidak dirasakan oleh seluruh golongan dan pesertanya akan terus berlipat ganda sampai Negara mampu menunaikan kewajibannya.