Literasi Hukum - Di era modern ini, suara anak muda menjadi semakin penting dalam membentuk arah sosial dan politik suatu negara. Dengan meningkatnya akses terhadap informasi dan teknologi, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor utama dalam perubahan sosial. Namun, di tengah berbagai isu sosial politik yang kompleks, muncul fenomena "kabur aja dulu" sebagai bentuk respons terhadap keadaan yang dianggap tidak menguntungkan. Dalam tulisan ini, kita akan membahas bagaimana suara kritis anak muda berperan dalam konteks sosial politik saat ini, serta tantangan yang mereka hadapi.
Ketidakpuasan Terhadap Sistem Politik
Salah satu alasan utama di balik fenomena "kabur aja dulu" adalah ketidakpuasan terhadap sistem politik yang ada. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga politik seperti DPR dan partai politik mengalami penurunan yang signifikan, yaitu mencapai 45% dari total responden. Hal ini menunjukkan bahwa banyak anak muda merasa bahwa suara mereka tidak didengar dalam pengambilan keputusan politik.
Contoh nyata dari ketidakpuasan ini bisa dilihat dalam gerakan protes yang dilakukan oleh anak muda di berbagai daerah. Misalnya, aksi demonstrasi yang terjadi pada tahun 2022 menuntut transparansi dalam pemilihan umum dan pengurangan korupsi. Mereka merasa bahwa sistem yang ada tidak mampu menjawab kebutuhan dan aspirasi generasi muda. Dengan demikian, "kabur aja dulu" menjadi pilihan bagi sebagian anak muda yang merasa bahwa perubahan tidak mungkin terjadi dalam sistem yang ada.
Komentar
0Bagikan perspektif Anda secara sopan, relevan, dan fokus pada isi artikel. Komentar tampil setelah moderasi.
Ikut berdiskusi
Tulis tanggapan yang jelas, sopan, dan tetap pada topik pembahasan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Komentar akan muncul setelah dimoderasi.