Membongkar Akar Masalah

Lantas, adakah solusi untuk membongkar akar masalah ini? Pertama, kita perlu kembali pada prinsip dasar demokrasi: keadilan dan transparansi. Pemilu tidak bisa diposisikan sebagai ajang bagi para politisi untuk mempergunakan uang negara dan jabatan publik demi kepentingan jangka pendek. 

Oleh karena itu, sinyal pembenahan dan reformasi besar-besaran dalam sistem pemilu, dan etika pejabat publik dalam pengelolaan anggaran negara menjadi urgensitas yang mesti diketengahkan. 

Kedua, untuk memutus kultur politik gentong babi, perlu adanya sistem pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap ucapan dan tindakan dari pejabat publik agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan dalam mendukung salah satu pasangan calon yang andil dalam kontestasi pemilu dengan menggunakan peralatan yang disediakan oleh negara.

Selain itu, tantangan utama dalam upaya penegakan hukum terhadap korupsi politik di Indonesia sangat kompleks, dengan sejumlah aspek paling menonjol seperti intervensi kekuasaan yang tidak netral dalam kontestasi pemilu dan independensi lembaga penegak hukum yang tebang pilih.

Intervensi politik ini seringkali terjadi dalam berbagai bentuk pola, mulai dari intervensi langsung maupun melalui cara lain yang lebih halus untuk mempengaruhi arah persaingan pemilu yang tengah diselenggarakan. 

Penguatan independensi dan ketajian lembaga pengawasan, baik dari internal pemerintah maupun masyarakat sipil, mesti diberdayakan agar dapat memantau dan mengawal setiap proses penyelenggaraan pemilu yang bebas dari segala bentuk kecurangan yang dilakukan.

Dalam hal ini, peran media massa juga mempunyai posisi strategis dalam mengawasi tingkah laku kekuasaan yang tidak transparan, menyalahgunakan jabatan dan merugikan kepentingan rakyat.

Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kesadaran kolektif publik yang mesti dibangunkan kembali. Tanpa didukung dengan transformasi paradigma dari masyarakat sebagai konstituen yang sebelumnya berorientasi pada uang hingga terbuai dengan janji manis atau proyek jangka pendek, harus beralih pada perspektif pemilih yang mengedepankan rasionalitas dan kritisisme.