Literasi Hukum - Sebuah negara tidak runtuh ketika ia kekurangan sumber daya, melainkan ketika hukum berhenti membedakan antara kekuasaan dan kebenaran. Pada titik itulah ketidakadilan tidak lagi tampil sebagai penyimpangan, melainkan sebagai sistem yang sah. Kalimantan hari ini adalah potret dari kegagalan semacam itu: tanah yang dieksploitasi secara masif, masyarakat yang disingkirkan secara legal, dan hukum yang lebih sering berfungsi sebagai pelindung kepentingan modal daripada penjaga martabat kehidupan.

Tema “Reset Indonesia” menuntut keberanian politik untuk mengakui satu fakta yang tidak nyaman: kerusakan ekologis di Kalimantan bukan kecelakaan pembangunan, melainkan konsekuensi logis dari arsitektur hukum dan kebijakan yang secara sadar membiarkan kekejaman berlangsung. Reset tidak akan berarti apa pun jika ia hanya memperbaiki prosedur, tetapi membiarkan struktur ketidakadilan tetap utuh.

Kekejaman yang Dilindungi oleh Legalitas

Pertambangan di Kalimantan tidak bergerak di ruang gelap. Ia beroperasi melalui izin, kontrak, regulasi, dan pembiaran yang sistematis. Kekejamannya justru terletak pada keterbukaannya: hutan dibuka dengan surat keputusan, sungai tercemar dengan dalih operasional, dan tanah adat dirampas melalui mekanisme administrasi yang mengabaikan persetujuan substantif masyarakat.

Dalam negara hukum yang sehat, legalitas seharusnya menjadi alat pembatas kekuasaan. Namun dalam praktik pertambangan di Kalimantan, legalitas telah direduksi menjadi stempel pembenaran. Izin tidak lagi menjadi instrumen pengendali, melainkan karpet merah bagi eksploitasi. Ketika hukum berhenti mengajukan pertanyaan moral, ia berubah menjadi mesin produksi ketidakadilan.

Lubang-lubang tambang yang dibiarkan menganga tanpa reklamasi bukan sekadar kegagalan teknis; ia adalah bukti bahwa penegakan hukum tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk melindungi ruang hidup. Negara mengetahui risikonya, masyarakat menanggung akibatnya, tetapi sanksi yang dijatuhkan sering kali tidak sebandingatau tidak pernah dijatuhkan sama sekali.