Meritokrasi yang Mati di Tangan "Ordal"

Beranjak ke ranah ekonomi dan peluang hidup, kita menemukan paradoks lain. Di atas kertas, Indonesia adalah kekuatan ekonomi baru dunia. Namun, bagi anak muda lulusan universitas yang tidak memiliki "koneksi," dunia kerja terasa seperti benteng yang mustahil ditembus. Fenomena "ordal" (orang dalam) telah menjadi penyakit struktural yang membusukkan prinsip meritokrasi.

Kecakapan dan integritas kalah telak oleh "pelicin" dan kedekatan personal. Akses pekerjaan yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara sesuai kompetensinya, justru berubah menjadi barang dagangan atau jatah bagi lingkaran kekuasaan. Kemerdekaan ekonomi bagi rakyat kecil terjepit di antara birokrasi yang lamban dan budaya nepotisme yang dianggap normal. Jika untuk mendapatkan pekerjaan yang layak saja seseorang harus "membeli" atau "menyembah" pada pemilik kuasa, bukankah itu bentuk perbudakan gaya baru?

Belenggu ini bahkan menjalar hingga ke level yang paling mikro: desa. Budaya pungutan liar (pungli) sistemik dalam pengurusan administrasi dasar masih menjadi pemandangan sehari-hari. Dari urusan KTP hingga izin usaha kecil, rakyat seringkali masih harus "menahu" aparatnya sendiri. Ini adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan yang ingin menghapuskan eksploitasi manusia atas manusia lainnya.

Demokrasi yang Dijual di Pasar Gelap

Secara prosedural, demokrasi kita tampak hidup. Kita melakukan pemilu secara rutin, ada partai politik, dan ada parlemen. Namun, lihatlah substansinya. Demokrasi kita telah bergeser menjadi "pasar gelap" di mana suara rakyat diperjualbelikan melalui fenomena "serangan fajar" atau money politics.

Politik uang bukan lagi rahasia umum, melainkan prasyarat untuk menang. Akibatnya, mereka yang terpilih bukanlah yang terbaik secara gagasan, melainkan yang paling tebal kantongnya. Demokrasi yang seperti ini hanya melahirkan pemimpin yang loyal pada pemodal, bukan pada konstituen. Suara rakyat hanya dihargai selama lima menit di bilik suara, setelah itu mereka kembali menjadi penonton yang terasing di tanah airnya sendiri.