PremiumIlmu HukumMateri Hukum

Posita: Kunci Sukses Menyusun Gugatan di Persidangan

Adam Ilyas
140
×

Posita: Kunci Sukses Menyusun Gugatan di Persidangan

Share this article
Posita
Ilustrasi Gambar

Literasi Hukum – Pelajari seluk beluk posita, elemen penting dalam gugatan perdata. Temukan tips menulis fundamentum petendi yang kuat dan efektif untuk memperkuat peluang Anda dalam memenangkan perkara.

Pengertian Posita

Posita atau fundamentum petendi adalah dalil atau alasan yang menjadi dasar gugatan. Fundamentum petendi berisi alasan-alasan atau uraian fakta yang melatar belakangi dilayangkannya suatu tuntutan hukum. Baik Penggugat maupun Tergugat dalam suatu tuntutan hukum harus menguraikan secara jelas dan tepat fundamentum petendi yang mendasari tuntutannya.

Advertisement
Advertisement

Macam Posita

  • Posita umum adalah Fundamentum petendi yang menjelaskan tentang peristiwa atau fakta yang mendasari gugatan.
  • Posita khusus adalah Fundamentum petendi yang menjelaskan tentang akibat hukum dari peristiwa atau fakta yang mendasari gugatan.

Fungsi Posita

Fungsi posita dalam gugatan:

  • Menegaskan hak Penggugat: Fundamentum petendi menegaskan hak Penggugat yang dilanggar oleh Tergugat.
  • Menjelaskan dasar tuntutan: Fundamentum petendi menjelaskan dasar hukum tuntutan Penggugat.
  • Membatasi ruang lingkup perkara: Fundamentum petendi membatasi ruang lingkup perkara yang akan diperiksa oleh hakim.

Contoh Posita

“Penggugat dan Tergugat telah menikah pada tanggal 1 Januari 2020 di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sidoarjo. Dari pernikahan tersebut, Penggugat dan Tergugat dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Budi. Pada tanggal 1 Januari 2023, Tergugat meninggalkan Penggugat dan anak mereka tanpa alasan yang jelas. Oleh karena itu, Penggugat menggugat Tergugat untuk:

  • Menghukum Tergugat untuk membayar nafkah kepada Penggugat sebesar Rp. 1.000.000 per bulan;
  • Menghukum Tergugat untuk memberikan hak asuh anak kepada Penggugat;
  • Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara.”

Fundamentum petendi dalam contoh tersebut menjelaskan tentang peristiwa atau fakta yang mendasari gugatan Penggugat, yaitu Tergugat telah meninggalkan Penggugat dan anak mereka tanpa alasan yang jelas. Fundamentum petendi tersebut juga menjelaskan tentang akibat hukum dari peristiwa tersebut, yaitu Penggugat menuntut Tergugat untuk membayar nafkah, memberikan hak asuh anak, dan membayar biaya perkara.

Tips Menulis Posita yang Kuat dan Efektif

1. Pahami Syarat Posita:

Posita harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:

  • Jelas: Fundamentum petendi harus ditulis dengan jelas dan mudah dimengerti.
  • Tertulis: Fundamentum petendi harus ditulis dalam bentuk tertulis.
  • Benar: Fundamentum petendi harus berdasarkan fakta yang benar.
  • Relevan: Fundamentum petendi harus relevan dengan tuntutan yang diajukan.

2. Lakukan Riset dan Persiapan Matang:

Sebelum menulis fundamentum petendi, lakukan riset dan persiapkan data yang mendukung, seperti:

  • Bukti-bukti yang mendukung fakta yang Anda uraikan.
  • Aturan hukum yang relevan dengan tuntutan Anda.
  • Yurisprudensi atau putusan pengadilan yang sejenis dengan kasus Anda.

3. Susun Posita dengan Sistematis dan Logis:

Fundamentum petendi harus disusun dengan sistematis dan logis, sehingga mudah dipahami oleh hakim. Gunakan struktur yang jelas dan urutan yang logis dalam menguraikan fakta dan argumentasi Anda.

4. Gunakan Bahasa yang Baku dan Profesional:

Gunakan bahasa yang baku, profesional, dan mudah dipahami. Hindari penggunaan bahasa yang ambigu, berbelit-belit, atau emosional.

5. Perhatikan Etika dan Kepatutan:

Perhatikan etika dan kepatutan dalam menulis fundamentum petendi. Hindari menyerang pribadi Tergugat atau menggunakan bahasa yang kasar dan tidak sopan.

Perkara yang Membutuhkan Posita

Pada dasarnya, fundamentum petendi diperlukan dalam semua bidang hukum yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa melalui gugatan. Posita merupakan bagian penting dalam gugatan yang memuat dalil-dalil atau alasan Penggugat dalam mengajukan tuntutannya.

Berikut beberapa bidang hukum yang sering menggunakan posita:

1. Hukum Perdata

  • Perkara wanprestasi: Fundamentum petendi menjelaskan pelanggaran kontrak yang dilakukan Tergugat dan kerugian yang dialami Penggugat.
  • Perkara perbuatan melawan hukum (PMH): Fundamentum petendi menjelaskan tindakan melawan hukum yang dilakukan Tergugat dan kerugian yang dialami Penggugat.
  • Perkara perceraian: Fundamentum petendi menjelaskan alasan perceraian, seperti perselisihan dan perilaku buruk pasangan.
  • Perkara warisan: Fundamentum petendi menjelaskan hak Penggugat atas warisan dan alasan mengapa Penggugat berhak menerimanya.

2. Hukum Tata Usaha Negara (HTUN)

Gugatan TUN: Fundamentum petendi menjelaskan keberatan Penggugat terhadap Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) dan alasan mengapa KTUN tersebut cacat hukum.

3. Hukum Pidana

Praperadilan: Fundamentum petendi menjelaskan alasan mengapa Penggugat merasa penetapan tersangka atau penyitaan yang dilakukan oleh penyidik tidak sah.

4. Hukum Konstitusi

Pengujian undang-undang: Fundamentum petendi menjelaskan norma atau pasal undang-undang yang diuji dan alasan mengapa norma/pasal tersebut bertentangan dengan UUD 1945.
Meskipun posita diperlukan dalam berbagai bidang hukum, format dan strukturnya dapat berbeda-beda tergantung pada jenis perkara dan aturan hukum yang berlaku.

Demikian penjelasan mengenai Fundamentum petendi. Apabila #temanliterasi ingin pembahasan topik lainnya, dapat menghubungi kami melalui laman contact us ataupun menghubungi melalui kami melalui whatsapp widget di sebelah kanan bawah. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.