Literasi Hukum

Ada satu jenis manusia yang kalau hidupnya tidak “terukur”, dia akan gelisah. Bukan gelisah karena takut tidak jadi orang sukses, tapi gelisah karena jam 10 pagi belum memindahkan satu task pun dari kolom “To Do” ke “Done”.

Dia bukan penjahat. Dia juga tidak berbahaya. Paling-paling, bahayanya cuma satu: membuat orang lain merasa bersalah.

Orang ini biasanya muncul dalam dua wujud. Pertama, teman yang baru kenal Notion lalu mendadak berbicara seperti konsultan manajemen. Kedua, rekan kerja yang menganggap kalender itu kitab suci. Kalau Anda bilang, “Nanti aku kabari ya,” dia akan menjawab, “Oke, aku buat block 15 menit di kalender kamu.”

Saya selalu curiga orang yang membuat block 15 menit itu bukan sedang mengatur waktu, tapi sedang mengatur nasib orang lain. Karena hidup, bagi mereka, seperti kamar kos: kalau tidak ditata, nanti berantakan. Dan kalau berantakan, mereka merasa gagal jadi manusia.

Padahal, manusia itu dari sananya sudah berantakan.

Produktivitas Itu Agama Baru, dan Kita Semua Jamaahnya yang Sering Telat

Dulu orang beriman takut dosa karena melanggar aturan moral. Sekarang orang beriman takut dosa karena melanggar aturan produktivitas: bangun kesiangan, lupa journaling, tidak olahraga, tidak baca buku, tidak minum air putih 2 liter, dan—yang paling parah—tidak “meng-upgrade diri”.

Kalau dulu ada ceramah soal neraka, sekarang ada konten: “Kalau kamu masih rebahan jam 9 pagi, kamu kalah sama orang lain.”

Kalau dulu ada dosa kecil, sekarang ada: “Scroll TikTok 10 menit tanpa tujuan.”

Kalau dulu ada ibadah sunah, sekarang ada: “Cold shower, meditasi, deep work 90 menit.”

Bahkan ada orang yang kalau seharian santai, malamnya tidak bisa tidur bukan karena kopi, tapi karena dihantui pertanyaan: “Ini hari gue barusan ngapain ya?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi punya daya rusak yang setara dengan tagihan paylater: kecil-kecil bikin panik.

To-Do List: Dari Alat Bantu Menjadi Daftar Kekurangan Diri

Pada awalnya, to-do list itu ide baik. Manusia punya keterbatasan ingatan. Wajar kalau perlu catatan. Sama seperti kita menulis “beli sabun” karena kalau tidak, nanti yang terbeli malah es krim dua liter yang sebenarnya tidak masuk kebutuhan primer, tapi masuk kebutuhan batin.

Masalahnya, to-do list hari ini bukan lagi catatan “hal-hal yang perlu dilakukan”. Ia berevolusi menjadi catatan “hal-hal yang membuktikan apakah kamu manusia layak atau tidak.”

Anda menulis:

  • Kerjakan laporan

  • Balas email

  • Meeting jam 2

Lalu, entah setan mana yang membisikkan, Anda menambah:

  • Belajar bahasa asing 30 menit

  • Baca buku 20 halaman

  • Olahraga 45 menit

  • Rapikan kamar

  • Masak makanan sehat

  • Bangun relasi

  • Bangun karier

  • Bangun bisnis sampingan

  • Bangun brand pribadi

  • Bangun rumah tangga (kalau perlu)

  • Bangun pagi (jelas)

Akhirnya daftar itu bukan lagi to-do list. Itu manifesto ketidakpuasan.

Dan ketika Anda gagal menuntaskan semuanya, yang Anda rasakan bukan “oh ya sudah, besok lanjut”, melainkan: “Gue ini problem, ya?”

Padahal problemnya sederhana: Anda menugaskan diri Anda menjadi pabrik, sementara Anda ini manusia yang kadang cuma pengin makan gorengan tanpa rasa bersalah.

Notion dan Template: Ketika Kita Mengira Hidup Bisa Diselesaikan Seperti PowerPoint

Di titik tertentu, to-do list manual terasa kurang meyakinkan. Kita butuh sesuatu yang lebih “profesional”. Masuklah Notion, Trello, Asana, ClickUp, dan seluruh keluarga aplikasi yang namanya terdengar seperti startup yang didanai modal ventura.

Lalu orang-orang mulai mengoleksi template.

Ada templateSecond Brain”, ada templateLife OS”, ada templatePersonal KPI”, ada templateWeekly Review ala CEO”, bahkan ada yang bikin dashboard hidup lengkap dengan grafik mood harian.

Saya tidak menertawakan. Saya paham godaannya. Melihat dashboard hidup itu memang memuaskan. Rasanya seperti Anda punya kendali. Seperti Anda bisa mengatur semesta. Seperti Tuhan, tapi versi freemium.

Masalahnya: hidup tidak punya tombol “filter” yang rapi.

Di Notion, Anda bisa membuat kategori: kerja, kesehatan, relasi, finansial. Di dunia nyata, semua kategori itu campur aduk seperti mi instan yang diseduh pakai air panas galau.

Anda bisa menulis “Self-care: 20 menit meditasi.” Tapi dunia nyata bisa saja membalas dengan: “Self-care: menghadapi tetangga renovasi dari jam 7 pagi.”

Anda bisa mengatur “Deep work 2 jam.” Tapi dunia nyata bisa saja mengirim paket COD yang isinya Anda lupa pesan apa, lalu Anda harus menjelaskan ke diri sendiri kenapa Anda membeli alat pijat kepala jam 2 pagi minggu lalu.

Hustle Culture Itu Menjual Harapan, Tapi Mengirimkan Kelelahan

Salah satu akar masalahnya adalah: kita hidup di zaman yang memuja kesibukan.

Di kantor, orang bangga bilang “gue sibuk banget.” Di tongkrongan, orang bangga bilang “gue nggak sempet.” Di media sosial, orang bangga memamerkan kalender penuh warna seperti pelangi yang gagal bahagia.

Kesibukan dijadikan status. Semakin sibuk, semakin dianggap penting. Seakan-akan nilai manusia bisa diukur dari jumlah meeting dan notifikasi.

Padahal, sering kali “sibuk” itu bukan tanda produktif, melainkan tanda tidak punya kuasa atas waktu sendiri.

Kita ini kadang bukan bekerja untuk hidup, tapi hidup untuk bekerja. Kita menyusun hari seperti Tetris: celah sedikit saja langsung panik, padahal Tetris itu game yang ujungnya selalu kalah juga.

Lalu muncul anjuran-anjuran ajaib: “Buat rutinitas pagi.” “Atur prioritas.” “Stop prokrastinasi.”

Seolah-olah masalahnya ada pada karakter kita, bukan pada sistem yang membuat kita harus kerja lebih keras untuk hal-hal yang dulu bisa didapat lebih mudah.

Akhirnya, produktivitas bukan lagi alat untuk memudahkan hidup. Ia berubah menjadi kompetisi tanpa garis finish.

Anda bisa lari cepat, tapi tetap merasa kurang. Karena selalu ada orang yang larinya sambil bikin konten, sambil investasi, sambil membangun startup, sambil menanam hidroponik di balkon apartemen.

“Healing” yang Dijadwalkan: Bahkan Istirahat Pun Harus Punya Output

Bagian paling lucu sekaligus paling menyedihkan adalah ketika budaya produktivitas berhasil mengkolonisasi konsep istirahat.

Sekarang, orang liburan bukan untuk istirahat, tapi untuk “healing.”

Dan healing itu bukan sekadar tidur siang atau bengong. Healing harus ada bukti. Minimal story. Kalau bisa, carousel.

Yang lebih parah: healing juga masuk to-do list.

  • Sabtu: healing ke coffee shop

  • Minggu: healing ke alam

  • Senin: kembali kerja dengan versi diri yang lebih segar (katanya)

Akhirnya, istirahat pun terasa seperti proyek. Kalau Anda tidak pulang dari liburan dengan foto bagus dan caption reflektif, Anda merasa liburan Anda gagal.

Padahal, definisi istirahat yang paling jujur kadang sederhana: tidur tanpa alarm dan bangun tanpa rasa bersalah.

Tapi itu sulit dilakukan ketika di kepala Anda ada notifikasi imajiner: “Anda belum produktif hari ini.”

Kita Sering Salah Diagnosa: Masalahnya Bukan Anda Malas, Tapi Anda Lelah

Ada momen ketika orang merasa dirinya prokrastinator. Lalu dia mencari solusi: video motivasi, buku self-help, kursus manajemen waktu. Dia berharap ada satu trik yang bisa menyulap hidupnya menjadi tertib seperti meja kasir minimarket.

Padahal, bisa jadi masalahnya bukan prokrastinasi. Bisa jadi itu kelelahan.

Kelelahan itu bentuknya macam-macam: fisik, mental, sosial. Dan yang paling jahat adalah kelelahan yang tidak terasa seperti lelah, tapi terasa seperti “kok gue nggak mood ya”.

Lalu kita menyalahkan diri. Kita menganggap diri kurang disiplin. Kita menganggap diri kurang kuat.

Padahal, bisa jadi tubuh dan pikiran kita sedang bilang: “Tolong, berhenti sebentar.”

Sayangnya, budaya produktivitas tidak suka kata “berhenti”. Karena berhenti itu seperti rugi. Seperti tidak menghasilkan. Seperti tidak punya nilai.

Padahal, kalau mesin dipaksa jalan terus, ujungnya bukan produktif. Ujungnya mogok. Dan kalau mogok, Anda tidak bisa menulis to-do list apa pun. Yang ada cuma daftar: “cari psikolog” dan “coba hidup pelan-pelan.”

Rapat yang Bisa Jadi Email: Produktif Palsu yang Paling Menguras Umur

Mari bicara hal yang lebih konkret: tempat kerja.

Banyak orang merasa tidak produktif padahal seharian penuh aktivitas. Tapi aktivitasnya seperti ini:

  • Meeting untuk membahas meeting

  • Follow up untuk memastikan follow up

  • Alignment untuk memastikan semua aligned (padahal tetap beda pendapat)

  • Diskusi panjang untuk keputusan yang ujungnya “coba dulu aja”

Ini produktif versi kosmetik. Seperti skincare 12 langkah tapi tetap kurang tidur. Ada usaha, tapi hasilnya tidak sebanding.

Dan karena aktivitas semacam itu menghabiskan waktu, orang kemudian mengejar produktivitas di luar jam kerja: bangun lebih pagi, tidur lebih malam, menambah side hustle.

Akhirnya hidup kita seperti warung yang buka 24 jam tapi kasirnya cuma satu: diri sendiri.

Tips Menjadi Kurang Produktif (Agar Hidup Lebih Waras)

Ini bagian yang biasanya tidak dijual oleh guru produktivitas, karena tidak laku. Tapi saya tetap mau menuliskannya, sebagai bentuk perlawanan kecil-kecilan yang tidak akan menggulingkan apa pun, tapi setidaknya menggulingkan ekspektasi berlebihan pada diri sendiri.

1) Punya to-do list itu boleh, tapi jangan jadikan itu kitab suci To-do list seharusnya membantu Anda mengingat, bukan mengadili Anda. Kalau tidak selesai, itu informasi, bukan vonis moral. Coba bedakan mana yang “harus selesai” dan mana yang “bagus kalau selesai”. Jangan semuanya masuk kategori darurat seperti sirene ambulans.

2) Berhenti mengukur nilai diri dari output harian Anda bukan mesin pencetak deliverable. Anda boleh punya hari yang isinya cuma bertahan hidup: makan, mandi, kerja secukupnya, lalu tidur. Kadang itu sudah pencapaian besar, apalagi kalau Anda menjalani hari dengan beban pikiran yang tidak terlihat oleh orang lain.

3) Sediakan waktu kosong yang benar-benar kosong Waktu kosong bukan berarti “waktu untuk mengerjakan hal lain.” Waktu kosong artinya Anda boleh bengong. Anda boleh melamun. Anda boleh tidak berguna sementara. Ironisnya, ide bagus sering muncul justru ketika kita tidak memaksa diri menjadi berguna.

4) Kurangi “alat bantu” kalau malah bikin repot Kalau Anda menghabiskan 2 jam merapikan dashboard produktivitas tapi pekerjaan tidak bergerak, mungkin Anda bukan sedang mengatur kerja, tapi sedang menunda kerja dengan gaya elegan. Aplikasi itu alat. Kalau alatnya lebih menyita energi daripada pekerjaan, berarti alatnya sudah berubah menjadi hobi.

5) Terima bahwa hidup memang tidak rapi Ada hari ketika rencana Anda hancur karena hal remeh: hujan deras, motor mogok, atasan tiba-tiba minta revisi, atau keluarga butuh bantuan. Bukan berarti Anda gagal mengelola waktu. Bisa jadi Anda sedang menjalani hidup yang normal.

Produktif Itu Bukan Berarti Penuh, Tapi Berarti Tepat

Kita sering mengira produktif itu sama dengan “penuh”. Jadwal penuh. Aktivitas penuh. Kepala penuh.

Padahal produktif yang sehat justru sering terasa seperti ini: ada ruang.

Ruang untuk menghela napas. Ruang untuk melakukan sesuatu tanpa tujuan ekonomis. Ruang untuk ngobrol tanpa merasa bersalah. Ruang untuk menjadi manusia yang tidak selalu punya rencana lima tahun.

Karena pada akhirnya, hidup bukan lomba siapa yang paling sibuk. Hidup itu semacam perjalanan panjang naik angkot yang kadang ngetem, kadang macet, kadang sopirnya ugal-ugalan, dan kita cuma penumpang yang berusaha tidak jatuh ketika angkot ngerem mendadak.

Dan kalau di tengah perjalanan Anda merasa lelah, Anda tidak perlu menginstal template baru. Kadang Anda cuma perlu turun sebentar, minum teh hangat, dan mengingat hal paling sederhana yang sering kita lupakan:

Kita ini bukan proyek, tapi manusia.