Melampaui Prosedur: Dimensi Substantif Keadilan
Dari penjiwaan atas kelima sila tersebut, menjadi jelas bahwa Negara Hukum Pancasila menolak untuk terjebak dalam formalisme hukum semata. Ia secara inheren menuntut perwujudan negara hukum substantif. Artinya, validitas hukum tidak hanya diukur dari apakah sebuah aturan telah disahkan sesuai prosedur (keadilan formal), tetapi yang lebih penting adalah apakah aturan tersebut membawa kemaslahatan, keadilan, dan kemanfaatan bagi masyarakat luas (keadilan substantif). Ketika sebuah undang-undang disahkan dengan proses yang benar namun isinya justru melayani kepentingan segelintir oligarki dan mengorbankan hajat hidup orang banyak atau kelestarian lingkungan, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati jiwa Negara Hukum Pancasila.
Tantangan di Era Disrupsi
Namun, jalan untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut tidaklah mulus. Saat ini, bangunan Negara Hukum Pancasila sedang menghadapi erosi dari berbagai arah. Salah satu tantangan terberat adalah pelemahan sistemik terhadap lembaga-lembaga penjaga pilar demokrasi dan konstitusi. Revisi undang-undang yang terkesan tergesa-gesa dan berpotensi mengurangi independensi institusi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau mengubah komposisi hakim di Mahkamah Konstitusi adalah alarm bahaya yang tidak bisa kita abaikan. Ketika para penjaga gerbang itu sendiri dilemahkan, maka seluruh bangunan menjadi rentan.
Selain itu, fenomena "pembajakan regulasi" (regulatory capture) oleh kelompok kepentingan menjadi penyakit kronis. Proses legislasi yang seharusnya menjadi arena pertarungan gagasan untuk kepentingan publik, seringkali bergeser menjadi ajang transaksi kepentingan privat. Akibatnya, produk hukum yang lahir justru jauh dari semangat keadilan sosial. Ditambah lagi, di era digital ini, hukum gagap menghadapi kecepatan penyebaran disinformasi yang dapat memecah belah persatuan, sementara di sisi lain, regulasi yang mencoba menertibkannya justru rawan menjadi pasal karet untuk membungkam kritik dan kebebasan berekspresi.
Komentar
0Bagikan perspektif Anda secara sopan, relevan, dan fokus pada isi artikel. Komentar tampil setelah moderasi.
Ikut berdiskusi
Tulis tanggapan yang jelas, sopan, dan tetap pada topik pembahasan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Komentar akan muncul setelah dimoderasi.