Literasi Hukum - Belum padam dari gejolak api polemik eksistensi nilai tukar rupiah yang ambruk, nama Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto, kini kembali ditumbuk habis-habisan oleh publik. Lewat akun Tiktok pribadinya, @Nekbong, Joice Mailoor menggelontarkan cibiran pedas menanggapi retorika presiden yang dinilai tidak sepantasnya meluluhlantakkan daya juang rakyat untuk mensejahterakan fondasi bangunan hidupnya. Joice: apakah survival kepastian ekonomi itu hanya hak milik pejabat pemerintah Indonesia?

Profil Singkat Joice dan Kecamannya terhadap Prabowo

Joice Mailoor merupakan seorang wanita sukses dengan latar belakang sebagai konsultan model (fashion konsultan), penata gaya busana (wardobe stylish), dan konsultan citra (image consultan) asal tanah air. Tak hanya berkecimpung di dunia fesyen saja, Joice juga dikenal aktif mengomentari gaya berbusana dan penampilan tokoh publik, politikus, hingga lisensi birokrasi manajerial pemerintahan Indonesia, yang dirasa bobrok menurut pasang mata pribadinya.

Lewat perantara akun Tiktoknya, Joice membantah secara mentah-mentah pernyataan Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto dalam pidatonya di Rapat DPR-RI, menggelontarkan kalimat "rakyat tidak bermimpi hidup kaya, yang penting cukup makan". Kata dia, upaya memperjuangkan kelayakan hidup masyarakat tidak bisa disamakan layaknya panggung pertunjukkan lelucon jenaka. Bukan juga berkamuflase sebagai ajang bersandiwara, martabat rakyat yang membanting tulang demi keluarga tidak dapat disandingkan dengan akselerasi survival hidup pejabat pemerintah atas beban hidup sudah disupervisi penuh oleh negara. Selain itu, Ia juga mempertanyakan evidensi kalangan rakyat mana yang menyepakati ketimpangan interpretasi tersebut.

"Blunder lagi si wowo (sebutan Presiden Prabowo) Rakyat tidak bermimpi jadi kaya, cukup makan seadanya. Nd*smu. Untuk apa rakyat kerja mati-matian? Buat apa masyarakat sekolah sampai tinggi kalau cuma hidup apa adanya. Itu dapat data dari mana? Rakyat sebelah mana, hah," marahnya dalam tayangan video tersebut, yang diunggah pada Kamis (21/05/2026).

Joice: Presiden harusnya Menguatkan, bukan Melemahkan

Ia turut mempertanyakan tanggung jawab kepala negara untuk mengayomi, memenuhi hak, dan mengutamakan kemakmuran rakyat. Kata dia, agaknya, beliau amnesia dengan tugas dan kewajiban atas jiwa-jiwa yang hidup di atas kekuasaan yang dipimpinnya.

"Cita-cita dan keinginan rakyat kok dipatahkan? Bukan menyemangati rakyatnya biar kerja keras agar bisa makmur. Ini malah dilumpuhkan," lanjut dia.

Sistem Pemerintahan Bobrok, Rakyat jadi Korban

Terakhir, Joice turut mendiskreditkan sistem tatanan pemerintahan Indonesia yang dinilai sangat amburadul. Dengan kata lain, pemangku kekuasaan negara belum mampu mengaplikasikan manajerial tata kelola yang seharusnya berjalan sebagaimana mestinya.

"Lihatlah negeri ini semuanya dirampok, sementara rakyat ditindas, dan diperas," tutup joice.

Rujakan pedas yang dilayangkan oleh Joice, menjadi tamparan keras bagi kita, rakyat Indonesia, terutama masyarakat biasa bukan bermata pencaharian di lembaga pemerintah. Substansial pemerintahan yang berangsur berat sebelah ini, nyatanya bukan sekadar ilusi atau mimpi semata. Ketimpangan sosial yang bersarang dalam sistem tata kelola pemerintahan ini sudah seyogyanya menjadi bahan evaluasi pemerintah supaya tidak lagi memuntahkan sensitivitas narasi sebelum berpotensi menusuk hati serta menggoyahkan kepercayaan masyarakat.