Garis Tipis

Bagi Luther, vonis itu adalah akhir perjuangannya di jalur hukum. Namun bagi banyak pemerhati, kasus ini menjadi preseden nyata tentang penerapan pasal makar. Sebuah aksi protes—yang di mata pesertanya adalah jeritan frustrasi—dipandang oleh negara sebagai ancaman eksistensial terhadap kedaulatan. Di situlah garis batas yang tipis itu terlihat: antara kebebasan berekspresi dan tuduhan makar yang bisa menyeret seseorang dari jalanan ke balik jeruji besi. Luther Wrait, seorang petani biasa, kini tercatat dalam sejarah hukum di Papua. Kisahnya bukan sekadar tragedi pribadi, melainkan cerminan nyata tentang bagaimana hukum dan politik sering kali berkelindan, dan bagaimana sebuah pekikan “Merdeka!” bisa bergema jauh hingga ke ruang sidang Mahkamah Agung.