Literasi Hukum - Di tengah viralnya film dokumenter Pesta Babi, nama Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa Mama Sinta kembali menjadi perhatian publik.
Tokoh perempuan adat asal Merauke, Papua Selatan, itu menyampaikan keberatan setelah wajah dan keterangannya disebut muncul dalam film dokumenter tersebut. Dalam video pernyataan yang beredar, Mama Sinta mengaku tidak memahami secara utuh bahwa dirinya akan ditampilkan dalam film yang kini menjadi perbincangan luas.
“Mama tidak tahu. Mama tidak kasih izin untuk buat film itu,” ujar Mama Sinta dalam video pernyataan yang dikutip dari sejumlah pemberitaan, Minggu (25/5/2026).
Pernyataan itu kemudian memunculkan perdebatan publik. Sebagian warganet menyoroti aspek etik dalam pembuatan film dokumenter. Sebagian lainnya mempertanyakan apakah penggunaan wajah, suara, dan identitas seseorang dalam karya audiovisual dapat bersinggungan dengan hak privasi dan perlindungan data pribadi.
Mama Sinta dan Polemik Film Pesta Babi
Yasinta Moiwend dikenal sebagai perempuan adat Marind-Anim dari Merauke, Papua Selatan. Sosok yang kerap disapa Mama Sinta ini selama ini lekat dengan isu masyarakat adat, lingkungan, tanah ulayat, dan ruang hidup masyarakat lokal.
Film dokumenter Pesta Babi sendiri menjadi sorotan karena mengangkat isu Papua Selatan, proyek berskala besar, deforestasi, konflik agraria, serta posisi masyarakat adat dalam pusaran pembangunan.
Namun, setelah film tersebut viral, Mama Sinta menyampaikan pernyataan berbeda. Ia mengaku tidak memahami bahwa istilah Pesta Babi merujuk pada judul film. Menurut keterangannya, ia semula mengira istilah itu berkaitan dengan kegiatan pesta adat atau pemotongan babi secara nyata.
“Memang mereka sampaikan bahwa sebentar ada film Pesta Babi. Jadi, saya kira mau potong babi, babi betulan. Ternyata bukan, itu judul filmnya,” ujarnya.
Pernyataan ini membuat publik bertanya lebih jauh. Apakah penggunaan identitas seseorang dalam film cukup hanya dengan kehadiran di depan kamera? Atau harus ada persetujuan yang benar-benar jelas, sadar, dan dipahami oleh pihak yang ditampilkan?
Komentar
0Bagikan perspektif Anda secara sopan, relevan, dan fokus pada isi artikel. Komentar tampil setelah moderasi.
Ikut berdiskusi