Praktik Endorsement Menyesatkan di Media Sosial

Besarnya pengaruh influencer dalam membentuk kepercayaan konsumen membuat praktik endorsement di media sosial semakin berkembang. Banyak pelaku usaha menggunakan jasa influencer untuk mempromosikan produk karena dianggap lebih efektif menarik perhatian masyarakat. Namun, di balik perkembangan tersebut, muncul berbagai praktik endorsement yang justru menyesatkan konsumen.

Adanya praktik endorsement yang sering menyesatkan banyak sekali ditemukan pada produk-produk seperti produk kecantikan, kesehatan dan juga investasi digital. Tidak sedikit juga influencer-infuencer yang memberikan klaim secara melebih-lebihkan produk yang dipromosikan tersebut, seperti hasil yang instan atau manfaat yang diberikan oleh produk tersebut belum terbukti secara sah memberikan efek sedemikian dari klaim yang diberikan influencer tersebut. Bahkan, ada beberapa produk yang dipromosikan belum memiliki izin untuk diedarkan. Kejadian ini membuat konsumen yang mudah kemakan dengan iklan endorsement dari influencer itu dan berakhiran dengan mengalami kerugian karena informasi yang diterima tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. 

Selain memberikan klaim berlebihan, beberapa influencer juga tidak menjelaskan secara terbuka bahwa konten yang dibuat merupakan bentuk iklan berbayar. Hal tersebut dapat membuat masyarakat menganggap ulasan yang diberikan sebagai pengalaman pribadi yang jujur, padahal terdapat kerja sama komersial dengan pelaku usaha. Kurangnya transparansi ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dan memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli suatu produk.

Dalam hukum perlindungan konsumen, informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus benar, jelas, dan tidak menyesatkan. Oleh karena itu, influencer tidak dapat hanya dianggap sebagai pihak yang sekadar membantu promosi produk. Ketika endorsement yang dilakukan menimbulkan kerugian bagi konsumen, influencer juga dapat dimintai pertanggungjawaban karena ikut menyebarkan informasi yang tidak sesuai fakta. [3]