Mengapa Marak Terjadi Tindak Kekerasan Seksual di Ruang Suci Pesantren?

Untuk memahami itu semua kenapa kerap kali terjadi kekerasan seksual dan fisik yang terus terjadi di ruang lingkup pesantren. Secara budaya pesantren sering kali memiliki krakter yang khas yang membedakan dengan sekolah pada umumnya, pesantren sering kali memiliki ekosistem yang sangat tertutup. Di sisi lain, isolasi diri ini merupakan Langkah awal agar para santri atau pelajar bisa lebih fokus dalam menuntun ilmu dan beribadah, namun di sisi lain, isolasi ini menimbulan “titik buta” bagi pengawasan ekstrenal, termasuk pengawasan dari hukum negara.

Pesantren yang sering kali sangat jauh dari kata interaksi dengna dunia luar, kerap kali memberikan ruang bagi oknum pelaku bertindak tanpa takut akan ketahuan. Di sinilah titik kerentannnya, tanpa adanya suatu sistem yang mengawasi secara transparansi oleh pihak luar, pesantren akan bertransformasi menjadi sebuah tempat Pendidikan yang aturannya ditentukan oleh penguasa internal sendiri.

Ada pula masalah asmetri kuasa yang sangat tajam. Dalam tradisi pesantren, kepatuhan akan kiai, ustadz, atau pengasu kerap kali menjadi bagian dari keberkahan ilmu. Doktrin seperti ini sering disebut denggan sami’na ea atha’na (kami dengar dan kami taat) yang seharusnya digunakan untuk ketaatan ibadah, sering kali disalahgunakan oleh segelintir peredarot untuk memanfaatkan korban. Santri yang sering kali masih dibawah umur, dengan pemikiran yang lugu dan pengetahuan Pendidikan agama yang masih dalam proses pembelajaran sering kali tidak mampu membedakan antara mana perintah suci dan mana Tindakan criminal yang berlindung dibalik nama agama. [2]