Antara Tom Lembong dan Budi Arie: Bagai Cinderella dan Musang Berbulu Domba
Melalui alegori Cinderella dan musang berbulu domba, tulisan ini mengkritik standar ganda dalam penegakan hukum dan loyalitas politik.
Catatan Opini
Artikel opini ini ditulis oleh kontributor/kolumnis. Pandangan yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mewakili pandangan redaksi.
PROGRAM KONTRIBUTOR
Anda bisa menjadi kolumnis di Literasi Hukum.
Kirim tulisan opini/analisis hukum Anda. Jika tayang, Anda berpeluang memperoleh payout/honor sesuai ketentuan.
Bagian 2/2: Epilog: Saat Keadilan Diadili dan Kekuasaan Mengadili
compliance) lebih berharga daripada kebenaran (truth). Ia tampil tenang, berbicara dalam jargon digitalisasi, dan menjaga ritme agar tidak mengusik konsensus elite. Loyalitasnya terbungkus dalam bahasa program kerja, dan karena itulah, ia tampak "aman".
Dengan demikian, terlihat sebuah logika yang bekerja di bawah permukaan: pelanggaran terhadap etika dan potensi pelanggaran hukum dapat dinegosiasikan, selama tidak mengancam stabilitas politik. Sebaliknya, pembangkangan moral—apalagi yang disuarakan secara terbuka—dianggap sebagai ancaman subversif yang tak dapat ditoleransi.
Dukungan
• Literasi Hukum Indonesia
Baca lebih nyaman, sekaligus dukung literasi.
Gabung Membership atau kirim artikel Anda untuk dipublikasikan.
Membership
Baca tanpa iklan, lebih fokus, dan akses fitur premium.
Kirim Artikel
Kirim tulisan Anda—kami kurasi dan bantu publikasi. Jika tayang, Anda berkesempatan memperoleh poin/payout sesuai ketentuan.
Komentar
0Bagikan perspektif Anda secara sopan, relevan, dan fokus pada isi artikel. Komentar tampil setelah moderasi.
Ikut berdiskusi
Tulis tanggapan yang jelas, sopan, dan tetap pada topik pembahasan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Komentar akan muncul setelah dimoderasi.