Literasi Hukum - Baru-baru ini keluar pernyataan kontroversial dari Presiden Prabowo Subianto perihal melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah yang yang pada selasa (19/05) menyentuh level 17.724/US$ direspon dengan pernyataan bahwa masyarakat desa tidak pakai dolar oleh Presiden ke-8 RI. Pernyataan tersebut seolah memberikan kesan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar tidak akan terlalu berdampak karena aktivitas masyarakat desa tidak menggunakan mata uang asing secara langsung. Namun, pernyataan ini dinilai terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan. 

Justru Orang Desa Berada di Barisan Terdepan yang Merasakan Dampak Pelemahan Rupiah

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin di perkotaan tercatat sebesar 6,60 persen, sedangkan di pedesaan mencapai 10,72 persen.  [1] Angka tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat desa merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap gejolak ekonomi, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah. Masyarakat desa kerap diasosiasikan sebagai petani. Apabila demikian maka petani merupakan pihak pertama yang terkena tekanan, harga pupuk nonsubsidi naik karena bahan bakunya banyak berasal dari impor. Harga pestisida ikut melonjak. Biaya operasional alat pertanian meningkat akibat mahalnya komponen dan suku cadang luar negeri.

Dalam kondisi demikian, kenaikan biaya produksi tidak selalu diikuti kenaikan harga hasil panen. Akibatnya, margin keuntungan petani semakin menipis. Pada saat bersamaan, daya beli masyarakat desa juga melemah karena harga kebutuhan pokok ikut naik. Analis senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, menilai bahwa persoalan utama bukan soal masyarakat memegang dolar atau tidak. Menurutnya, nilai tukar dolar tetap memengaruhi harga barang di Indonesia. Ia menegaskan bahwa rakyat kecil sering kali menjadi pihak yang paling akhir menyadari gejolak kurs, tetapi paling cepat merasakan dampak kenaikan harga.  [2]