BANDUNG, Literasi Hukum — Kepolisian masih mendalami tragedi dalam acara syukuran pernikahan putra Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Pendopo Kabupaten Garut pada Jumat (18/7/2025). Peristiwa yang menelan tiga korban jiwa ini memicu seruan publik agar penegakan hukum berjalan objektif dan tanpa tebang pilih.
Ketua Harian Aliansi Masyarakat Garut Anti Radikalisme dan Intoleransi (Almagari), Juhendi Majid, menegaskan pada Kamis (24/7/2025) bahwa masyarakat menanti penyelesaian hukum yang adil. Ia menilai pemeriksaan tidak boleh terbatas pada panitia, Pemkab Garut, atau saksi mata semata.
“Seharusnya pemangku hajatan, seperti pengantin dan orangtuanya, juga diperiksa. Tujuannya agar proses hukum berjalan objektif dan tidak memihak,” ujarnya.
Juhendi mendorong pengawalan publik agar penyelidikan transparan serta mengimbau warga Garut tetap tenang dan tidak terpancing komentar provokatif di media sosial. “Kita harus memberikan ruang kepada aparat penegak hukum untuk menjalankan tugasnya secara profesional,” katanya.
Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Hendra Rochmawan, menyebutkan sudah 11 orang dimintai keterangan, termasuk panitia, korban, anggota Satpol PP, dan polisi yang bertugas. Tahap berikutnya adalah mengirimkan surat undangan klarifikasi kepada pihak-pihak terkait, di antaranya Asisten Administrasi Umum Pemkab Garut, lima anggota Polri, Kepala Satpol PP, serta dua pihak penyelenggara.
Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jabar juga akan mengambil keterangan dari orang tua korban dan warga sekitar lokasi kejadian. Langkah ini diharapkan dapat memperjelas kronologi dan tanggung jawab hukum.
Insiden terjadi sekitar pukul 13.00 WIB, saat ribuan warga memadati salah satu pintu masuk Pendopo Kabupaten Garut. Panitia menyediakan sekitar 5.000 porsi makanan. Berdasarkan video yang beredar di media sosial, lebih dari seribu orang berdesakan hingga sulit bergerak; bahkan sebagian warga terinjak.
Akibat insiden tersebut, dua warga dan seorang anggota Polres Garut meninggal dunia. Mereka adalah Vania Aprilia (8), Dewi Jubaedah (61), dan Bripka Cecep Bahri (39). Sebanyak 27 orang lainnya dilaporkan pingsan karena kekurangan oksigen.
Maula Akbar Mulyadi—putra sulung Gubernur Jawa Barat—dan istrinya, Putri Karlina, menyampaikan belasungkawa yang mendalam.
“Kami sangat terpukul atas kejadian ini. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyakiti siapa pun. Kami siap mengikuti prosedur hukum dalam peristiwa ini,” kata Maula, Sabtu (19/7/2025).
Maula juga mengaku pembagian makanan tidak diumumkan secara resmi. Niat berbagi muncul karena adanya makanan berlebih. Namun, seorang saksi mata berinisial Dv (31) mengungkapkan bahwa warga berdatangan sejak pukul 08.00 WIB karena mengira akan ada kehadiran Dedi Mulyadi dan “pesta rakyat” dengan 5.000 porsi makanan, sebagaimana dilihatnya di media sosial.
Platform kami menyediakan ruang bagi pandangan yang mendalam dan analisis konstruktif. Kirimkan naskah Anda dan berikan dampak melalui tulisan yang mencerahkan.
Tutup
Kirim Naskah Opini